Rabu, 23 Mei 2012
Krisis Listrik Hambat Perekonomian Kepri
Rabu, 16 Juni 2010 00:01
AddThis Social Bookmark Button

 

Jakarta, 16/6 (Sigap) - Pengusaha pengembang perumahan di Kepulauan Riau, Suryono, mengatakan krisis listrik yang terjadi saat ini di Kepulauan Riau selain Batam mengakibatkan menghambat laju pertumbuhan perekonomian.

 

"Krisis listrik yang terjadi saat ini di Bintan, Tanjungpinang, Karimun sangat menghambat perekonomian di Kepulauan Riau," kata Suryono di Tanjungpinang, ibukota Kepulauan Riau (Kepri), Selasa.

Pemilik Sinar Bahagia Grup yang bergerak di bidang properti tersebut mengatakan saat ini permintaan akan perumahan di Kepulauan Riau semakin meningkat namun tidak ditunjang dengan tersedianya energi listrik sebagai kebutuhan dasar.

"Selain krisis listrik, ketersediaan sumber air bersih juga menjadi kendala," ujarnya.

Diakuinya, saat ini sebagai pihak pengembang perumahan hanya bisa bertahan dengan kondisi yang ada,  agar tetap mempertahankan usaha.

"Permintaan sebenarnya sangat tinggi, namun akibat tidak tersedianya energi untuk kebutuhan dasar tersebut kami hanya berusaha untuk bertahan dan tidak mungkin meninggalkan usaha," ujarnya yang mengembangkan perumahan di Tanjungpinang, Bintan, Tanjung Balai Karimun dan Lingga.

Pengusaha yang saat ini sudah membangun sekitar 10.000 unit rumah dan 10.000 unit ruko tersebut berharap pemerintah bersama pengusaha bisa bersama-sama untuk memenuhi energi listrik agar roda perekonomian dapat berjalan dan bisa mempercepat pembangunan.

Menurut Suryono, dengan terpenuhinya energi dasar terutama energi listrik tersebut juga akan berdampak kepada semakin berkembangnya dunia usaha yang lain.

"Contoh kecil saja untuk memenuhi kebutuhan dunia properti perusahaan yang terlibat bisa mencapai 100 perusahaan," ujarnya.

Dia berharap satu hingga dua tahun kedepan, krisis listrik di Kepri dapat diatasi agar roda perekonomian bisa berjalan lancar dan semakin berkembang.

Di tempat lain
Dalam catatan Sigap, ditahun 2008 saja, cadangan dan produksi energi Indonesia terdiri Minyak Bumi dengan sumber daya 56,6 miliar barel, cadangan 8,4 miliar barel, produksi 348 juta barel dan rasio cadangan/produksi 24 tahun. Gas bumi dengan sumber daya 334,5 TSCF, cadangan 165 TSCF, produksi 2,79 TSCF dan rasio cadangan/produksi 59 tahun.

Batubara dengan sumber daya 90,5 miliar ton, cadangan 18,7 miliar ton dan produksi 201 juta ton, sedangkan rasio cadangan/produksi 93 tahun. Coal bed methane (CBM) dengan sumber daya 453 TSCF. Tenaga air 75,67 GW, panas bumi 27 GW, mikro hydro 0,45 GW, biomass 49,81 GW, tenaga surya 4,8 kWh/m2/day, tenaga angin 9,29 GW dan uranium 3 GW untuk 11 tahun (hanya di Kalan, Kalimantan Barat)

Ditahun 2010, untuk cadangan daya yang dimiliki PLN Sulawesi Selatan Barat dan Tenggara mencapai 121 Megawatt hingga akhir tahun. Sehingga, posisi daya listrik terpasang diperkirakan akan mencapai 819 MW.

"Kami optimistis itu tercapai, saat ini defisit daya sudah teratasi dengan masuknya daya listrik dari beberapa pembangkit swasta," ujar Ahmad Siang, General Manager PLN Sulawesi Barat dan Tenggara (Sultan batara) kepada Tempi.

Disebutkan beban puncak pukul 17.00-22.00 WITA saat ini mencapai 556 MW, sedangkan saat beban normal berkisar 350 MW. Meskipun beban puncak terjadi, dia menjelaskan PLN masih punya cadangan daya sebesar 30 MW karena daya mampu saat ini 600 MW.

"Kami tak khawatir lagi saat ini, kami jamin pemadaman bergilir dihentikan tapi pemadaman akibat kerusakan jaringan instalasi mungkin terjadi," ujar  Ahmad.

Hingga akhir tahun, dia memperkirakan jumlah daya listrik yang masuk ke sistem kelistrikan PLN Sultanbatara sebesar 212 MW.Dengan rincian, PLTU Tallo lama 40 MW, PLTGU Tello 70 MW, PLTD Jeneponto 20 MW, PLTD Bulukumba 20 MW, PLTD Sungguminasa 25 MW dan PLTD Sewatama di Makassar 17 MW.

Daya listrik baru dari pembangkit swasta tersebut, kata Ahmad, akan masuk ke sistem PLN secara bertahap. Pembangkit yang sudah memasok listrik saat ini yaitu PLTD Jeneponto, PLTD Bulukmba, PLTGU Tello dan PLTU Tallo lama.

Sedangkan pada 2011, pembangkit yang akan beroperasi yaitu PLTGU Barru 100 MW dan PLTG Bosowa sebesar 2 x 125 MW  "Tahun depan surplus daya listrik akan jauh lebih besar," ujarnya.

Dia berharap  surplus daya listrik hingga beberapa tahun ke depan benar-benar dimanfaatkan tidak hanya untuk kepentingan rumah tangga, namun juga untuk industri. "Kami imbau perusahaan-perusahaan swasta tidak perlu membangun pembangkit sendiri. PLN mampu, kok, layani kebutuhan listriknya," jelasnya lagi.

Dengan kondisi kelebihan daya tersebut, PLN mulai April  ini membuka layanan sambungan baru. Namun, pelanggan baru PLN  wajib menggunakan listrik prabayar. Produk listrik prabayar  merupakan langkah PLN untuk menerapkan penghematan pemakaian listrik.

Kemajuan daya listrik ditempat lain tersebut, tentu saja  juga dinantikan oleh masyarakat dan dunia usaha di Kepulauan Riau. (laporan wa prasetia/ant/tempo)

 

 

Arsip Berita