Rabu, 23 Mei 2012
Banjir Genangi 100 Sawah Dan Puluhan Rumah Di Nganjuk
Selasa, 03 Mei 2011 04:05
AddThis Social Bookmark Button

 

Nganjuk, 3/5 (SIGAP) - Banjir menggenangi sekitar 100 hektare areal persawahan dan puluhan rumah di Desa Sumeko, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, dan mengancam hasil gabah petani.

Parmo (35), salah seorang petani di desa itu, Senin (3/5) mengaku cemas dengan banjir yang terjadi kali ini. Padinya saat ini sudah memasuki masa panen, tapi belum bisa dipanen karena terendam.

"Harusnya sudah panen, karena padi sudah tua. Tetapi, karena banjir, masih ditunda dulu," katanya mengungkapkan.

Dirinya mengaku resah, sebab belum ada tanda-tanda banjir yang menggenangi lahan pertanian di daerah itu sejak Minggu (1/5) sore akan surut.

Biasanya, air akan surut antara 2-3 hari, tetapi waktu selama itu bisa menyebabkan padinya busuk, karena itu mereka mencegah hal itu dengan segera panen.

"Kalau terpaksa, ya nanti menggunakan perahu dari batang pisang untuk mengangkut padi. Jika tidak, nanti bisa busuk gabahnya," ucapnya.

Parmo mengatakan, musim panen tahun ini juga tidak sebagus sebelumnya. Dari 600 ru lahan yang dimilikinya, seharusnya mampu menghasilkan 6 ton gabah, tetapi karena cuaca, diperkirakan hanya setengah.

Banjir di Desa Sumeko itu merendam sekitar 100 hektare areal pertanian padi baik yang masih baru tanam 20 hari, masih bibit, maupun padi yang sudah waktunya panen.

Selain itu juga merendam bangunan dan rumah warga. Dua lembaga pendidikan juga terganggu aktivitasnya, yaitu SDN Sumeko 3 dan SMAN I Sukomoro, Nganjuk.

Banjir itu melanda lima dari enam dusun di daerah itu, antara lain Dusun Sumeko, Ganggang Malang, Plosorejo, Ngrowo, dan Nglegok.

Sementara itu, Sekretaris Desa Sumeko, Sunardi, mengakui daerahnya sering menjadi langganan banjir. Selama 2010 sudah tercatat hingga enam kali banjir, sedangkan untuk tahun 2011 sudah dua kali.

Dirinya mengatakan, banjir di daerahnya terjadi karena menjadi pertemuan air dari saluran kota dan Kecamatan Berbek, sebelum mengarah ke Sungai Kedungsuko dan Sungai Widas.

"Tidak hujan saja, daerah ini bisa banjir karena kiriman air dari kota dan Berbek. Banjir akan lebih parah lagi, jika di daerah ini juga hujan, bahkan lebih dari tiga jam, air pasti meluap," ujarnya.

Selain sungai tidak mampu menampung air, banjir juga disebabkan adanya penyempitan di bagian hulu sungai, hingga air tidak tertampung dan menggenang di sekitarnya. Selain itu, dam di Desa Sumeko ini sudah rusak sejak lima tahun lalu, hingga air tidak mengalir lancar.

Menurut Sunardi, jika kondisi ini terus terjadi di daerah ini bisa menjadi bencana, mengingat daerah ini juga sebagai salah satu penghasil gabah yang baik, karena pemerintah diharapkan untuk tegas dalam melakukan perbaikan.

Menanggapi hal itu, Kepala Sub Bagian Pemberitaan Pemkab Nganjuk Ahmadi mengatakan, pemerintah sedang berupaya untuk melakukan normalisasi di Sungai Sumeko, agar air bisa mengalir dengan lancar.

"Upaya perbaikan selalu kami lakukan. Saat ini, masih dalam proses terus untuk normalisasi," ujar Ahmadi. (laporan sofyan/ant)

 

 

Arsip Berita