Rabu, 23 Mei 2012
Pemkab Barut Kembangkan Tanaman Jagung Seluas 10 Hektare
Jumat, 29 April 2011 04:00
AddThis Social Bookmark Button

Muara Teweh, 29/4 (SIGAP) - Pemerintah Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, mengembangkan tanaman jagung seluas 10 hektare untuk bahan baku pakan ternak dan konsumsi pada 2011.

Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Peternakan Barito Utara (Barut) Sunoto di Muara Teweh, Jumat (29/4) mengatakan, pihaknya berupaya pengembangan jagung dengan memberikan bantuan bibit kepada petani ini merupakan cara menyediakan pangan bagi masyarakat setempat dan pakan ternak olahan yang lebih murah dibanding harga pelet.

Sunoto menyebutkan kawasan perkebunan jagung nanti dikembangkan masyarakat eks transmigrasi di Desa Mampuak Kecamatan Teweh Timur, selain untuk kebutuhan masyarakat juga ternak.

Selama ini, kata Sunoto, pihaknya masih mendatangkan jagung dan kedelai untuk pakan ternak dari luar daerah seperti Pleihari Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.

"Jadi untuk memenuhi pasokan pakan ribuan ayam tersebut pihaknya melakukan kerja sama dengan masyarakat untuk menanam jagung yang akan hasilnya dibeli balai benih sehingga program ini memiliki nilai tambah bagi petani jagung," katanya didampingi Kepala Bidang Pertanian, Rosmadianor.

Sunoto mengatakan, harga pakan olahan ini 60 persen lebih murah dibanding pelet dan telah dicoba untuk pakan ratusan ayam petelur yang telah dikembangkan di Balai Benih Peternakan kilometer 7 Jalan Negara Muara Teweh-Puruk Cahu.

Pakan itu terdiri atas beras jagung, tepung kedelai, konsentrat dan vitamin, yang hasilnya cukup baik bahkan dari penjualan telur hasil ratusan ayam itu dapat menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) Rp15 juta per tahun.

"Program pakan tanpa pelet ini terus kami kembangkan dengan menambah jumlah ayam dan bahan baku seperti jagung serta kedelai yang sebagian dibeli dari warga setempat," katanya.

Kawasan tanaman jagung ini selain di wilayah Kecamatan Teweh Timur juga dikembangkan petani secara swadaya Kecamatan Teweh Tengah diantaranya di Desa Trinsing, Trahean, Sei Rahayu II dan sejumlah tempat pertanian lain.

"Jadi program ini selain untuk kebutuhan kami juga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat," jelasnya.

Selain itu, pola pakan olahan ini juga dapat dikembangkan masyarakat yang selama ini masih tergantung pada pelet dan hasilnya kurang mendukung karena harganya yang mahal.

"Diharapkan dengan pola pakan olahan itu dapat meningkatkan pendapatan masyarakat karena selama ini harga pakan cenderung naik sehingga mempengaruhi hasil peternakan ayam di daerah ini," katanya. (laporan panji al husen/ant)

 

Arsip Berita