Rabu, 23 Mei 2012
Ahli Kelautan: Gunung Es Selatan Mencair, Membuka Tabir Misteri Lautan Dalam Di Wilayah Antartika
Kamis, 28 April 2011 06:24
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 28/4 (SIGAP) - Sebuah gunung es yang menabrak gletser Mertz di Antartika Timur tahun lalu telah mengakibatkan runtuhnya gletser Tongue. Akibat runtuhnya gletser Tongue sebesar 78 meter tersebut telah membuat area lautan yang dulu tertutup oleh lapisan es setebal ratusan meter dan kehidupan laut, seperti bintang laut yang selama ini bersembunyi, telah terekspos keluar.

Steve Rintoul, ahli kelautan dari Antartic Climate and Ecosystems Cooperative Research Centre mengatakan, struktur geometri kutub selatan telah berubah seketika.

“Runtuhnya gletser Tongue bukan akibat dari perubahan cuaca. Hal ini merupakan kejadian alamiah, oleh karena itu kali ini alam telah menyelesaikan eksperimen bagi kita.” lanjutnya lagi.

Sebuah kelompok yang terdiri dari 40 orang ilmuwan asal Australia dan internasional termasuk Steve Rintoul, telah memanfaatkan musim panas ini untuk mengunjungi area di kutub selatan tersebut dan melakukan penelitian tentang pengaruh runtuhnya gletser Tongue.

Hasilnya ternyata sangat mengejutkan. Bongkahan es sebesar 10.000 meter kubik telah jatuh ke dalam lautan dan sedang menuju ke lautan yang bersuhu lebih tinggi. Apabila bongkahan es tersebut mencair, maka kandungan garam dalam lautan akan berkurang, yang akan mengakibatkan jumlah plankton akan bertambah secara drastis. Plankton membutuhkan sinar matahari, nutrisi, dan juga zat besi untuk tumbuh.

Normalnya, kandungan zat besi ini berasal dari debu di atas langit. Bongkahan es yang jatuh tadi ternyata penuh dengan debu yang mengandung zat besi. “Kandungan zat besi yang tertimbun di dalam debu di atas lapisan es selama puluhan tahun itu akan menjadi penyuplai makanan bagi plankton. Jika lapisan es tadi mencair seluruhnya, sama saja dengan menyuplai besi yang dibutuhkan oleh plankton dalam kurun waktu 20-40 tahun hanya dalam satu musim! Jadi bisa dibayangkan bagaimana pesatnya pertumbuhan plankton nanti.” kata Steve.

Perubahan lain yang terjadi adalah penampakan segala penghuni laut dalam, termasuk hewan laut yang amat besar, seperti ubur-ubur yang berwarna-warni, pena laut yang menyerupai bulu, dan lain sebagainya. Kini mereka semua telah menampakkan diri setelah hidup selama puluhan tahun di area kutub selatan yang gelap.

Seperti diketahui, Antartic Climate and Ecosystems Cooperative Research Centre adalah sebuah lembaga yang berada di bawah naungan Federasi Ilmuwan Tasmania dan Organisasi Peneliti Industri (CSIRO). (Epochtimes.co.id)

 

Arsip Berita