Rabu, 23 Mei 2012
Dinkes Denpasar Catat Sebulan Terjadi 190 Kasus Gigitan Anjing
Senin, 25 April 2011 02:44
AddThis Social Bookmark Button

Denpasar, 25/4 (SIGAP) - Dinas Kesehatan Kota Denpasar mencatat setiap bulan hingga April 2011 terjadi 190 kasus gigitan anjing di wilayah ibu kota provinsi Bali itu.

"Berdasarkan pengamatan kami, di Denpasar cukup banyak terjadi kasus gigitan, namun tidak terlalu banyak korban meninggal akibat virus mematikan itu," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar dr Luh Putu Sri Armini, Minggu (24/4).

Dirinya menjelaskan, guna mencegah warga terserang penyakit anjing gila itu, pihaknya sedang melakukan pengadaan vaksin anti rabies (VAR) di beberapa rumah sakit/puskemas.

Vaksin itu akan disimpan untuk periode 2011, di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wangaya dan Puskesmas I Denpasar selatan.

"Kami menduga penyebaran atau kasus yang ada tersebar secara acak ke seluruh daerah," ujarnya.

Armini menjelaskan, program penanganan VAR untuk mencegah penyakit rabies itu didanai dari APBD Pemkot Denpasar.Akan tetapi jumlahnya tidak terlalu besar.

"Dana guna VAR itu relatif kecil, bernilai ratusan juta. Meski dana itu tidak terlalu kecil, namun pihaknya optimistis vaksinasi bisa terselenggara," katanya.

Keyakinan itu muncul setelah adanya bantuan dari pemerintah pusat melalui Pemprov Bali.

Dirinya mengatakan, kemungkinan VAR tersebut akan dibagikan dalam waktu dekat. Tidak ada jumlah pengalokasian VAR yang dominan, semuanya tergantung dari jumlah kasus gigitan anjingnya.

Penyakit rabies disebabkan oleh virus rabies yang menyerang otak, dan dapat menular dari hewan kepada manusia melalui hewan pembawa rabies (HPR).

Yang termasuk HPR terutama anjing, kucing, dan monyet.

Di Indonesia sumber utama pembawa rabies adalah anjing. Selain di Bali, rabies juga banyak terdapat di Flores, Maluku, Sulawesi, dan Jawa Barat.

Kasus rabies di Bali pertama kali ditemukan 23 November 2008 dan dua hari kemudian ditemukan korban meninggal akibat rabies. Berdasarkan data, rabies di Pulau Dewata pada 2008 berjumlah 21.993 kasus dan 122 orang meninggal.

Pada 2009 meningkat menjadi 45.466 kasus dengan 195 orang meninggal, dan 2010 menjadi 45.073 kasus dengan 152 jiwa meninggal. (laporan roesman/ant)














 

Arsip Berita