Rabu, 23 Mei 2012
Sejumlah Korban Merapi Keberatan Jadup Diganti Padat Karya
Kamis, 21 April 2011 06:45
AddThis Social Bookmark Button

Sleman, 21/4 (SIGAP) - Sejumlah korban bencana erupsi Gunung Merapi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyatakan keberatan apabila jaminan hidup akan diganti dengan program padat karya, karena tidak semuanya bisa terakomodasi.

"Kami tidak setuju jika jaminan hidup (jadup) diganti dengan program padat karya, sebab tidak semua korban Merapi bisa mengikuti atau terlibat di dalamnya," kata Sumantri (45) warga Srodokan, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Kamis (21/4).

Menurut Sumantri, yang kini tinggal di hunian sementara (huntara) Dusun Dongkelsari, Wukirsari itu, jumlah warga yang bisa ikut program padat karya selama ini sangat terbatas, dan tidak semuanya dapat tertampung.

"Belum lagi bagi korban Merapi yang selama ini telah memiliki pekerjaan tetap, baik itu sebagai buruh atau pegawai instansi, mereka tidak akan bisa ikut kegiatan padat karya karena mereka harus masuk kerja," katanya.

Dirinya mengatakan bagi mereka yang telah lanjut usia atau sakit, juga tidak mungkin bisa ikut dalam program padat karya ini.

"Belum lagi kaum perempuan dan anak-anak, mereka juga tidak akan bisa ikut dalam kegiatan padat karya, padahal mereka selama ini memperoleh jadup sebesar Rp5.000 per hari," katanya.

Kepala Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Heri Suprapto mengatakan warga korban bencana erupsi Merapi di desa itu akan keberatan jika jadup diganti dengan padat karya, karena selain akan banyak yang tidak bisa terlibat, juga karena upah yang diterima dalam program ini setiap kepala keluarga bisa tidak sama, sehingga rawan menimbulkan kecemburuan.

"Dalam program padat karya masing-masing memperoleh upah Rp20 ribu bagi pekerja, dan Rp30.000 untuk tukang. Misalnya satu keluarga terdiri atas empat jiwa, maka upahnya bisa lebih besar dibandingkan dengan nilai jadup yang hanya Rp5.000 per jiwa per hari. Tetapi, ada yang satu keluarga terdiri atas enam jiwa atau lebih, sehingga upah mereka akan lebih kecil dari jadup," katanya.

Sebelumnya, Dinas Tenaga Kerja dan Sosial (Disnakersos) Kabupaten Sleman mengusulkan agar bantuan jaminan hidup bagi korban bencana erupsi Gunung Merapi diganti dengan program padat karya.

Kepala Disnakersos Kabupaten Sleman Kriswanto mengatakan direncanakan ada 20 paket program padat karya yang akan dilaksanakan selama masa tanggap darurat bencana Merapi.

"Satu paket program padat karya dianggarkan dana sebesar Rp54,5 juta yang diambilkan dari APBD Kabupaten Sleman. Satu paket dapat dikerjakan 40 orang untuk 18 hari kegiatan, dengan upah Rp20 ribu per orang untuk pekerja, dan Rp30 ribu bagi tukang," katanya. (laporan sofyan badrie/ant)

 

Arsip Berita