Rabu, 23 Mei 2012
Danau Toba dan Sejarah Letusan Supervolcano
Rabu, 20 April 2011 00:00
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 19/4 (SIGAP) - Danau Toba di provinsi Sumatera Utara diperkirakan terjadi saat ledakan sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu  dan merupakan letusan supervolcano (gunung berapi super) yang paling baru.

Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University dalam penelitiannya memperkirakan, bahan-bahan vulkanik yang dimuntahkan gunung itu sebanyak 2.800 km3, dengan 800 km3 batuan ignimbrit dan 2.000 km3 abu vulkanik yang diperkirakan tertiup angin ke barat selama 2 minggu.

Debu vulkanik yang ditiup angin telah menyebar ke separuh bumi, dari Cina sampai ke Afrika Selatan. Letusannya terjadi selama 1 minggu dan lontaran debunya mencapai 10 km di atas permukaan laut.

Super volcano Toba pernah meletus sebanyak 3 kali. Letusan pertama diperkirakan terjadi sekitar 840 juta tahun lalu. Letusan ini menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Prapat dan Porsea.

Letusan kedua memiliki kekuatan lebih kecil, terjadi 500 juta tahun lalu. Letusan ini membentuk kaldera di utara Danau Toba.

Sementara letusan terdahsyat ketiga diperkirakan terjadi 74.000 tahun lalu menghasilkan kaldera, dan menjadi Danau Toba sekarang dengan Pulau Samosir di tengahnya.

Letusan ketiga lamanya satu minggu memuntahkan 2.800 km2 bahan vulkanik, 800 km2 batuan ignimbrit dan 2.000 km2 abu vulkanik, terlontar setinggi 10 km dari permukaan laut, tertiup angin selama dua minggu dan menyebar keseluruh dunia sampai ke Kutub Utara, menyebabkan perubahan iklim global, suhu bumi menurun drastis (zaman es) dan pada akhirnya membunuh 60% populasi manusia pada saat itu.

Magma yang di bawah itu terus mendesak ke atas, pelan-pelan karena tak ada daya untuk meletus. Gerakan ini berusaha untuk menyesuaikan ke normal gravitasi. Ini terjadi dalam kurun waktu ribuan tahun. Hanya pulau Samosir yang terangkat karena tekanan magma. Sementara daerah lainnya merupakan dinding kaldera.

Sementara itu, menurut  teori bencana Toba yang dikemukan oleh Stanley H. Ambrose dari University of Illinois di Urbana-Champaign pada tahun 1998 disebutkan, akibat letusan Toba jumlah populasi manusia mungkin  telah berkurang menjadi hanya beberapa puluh ribu orang. 

Danau Toba terletak di dekat garis patahan yang membentang di sepanjang pusat Sumatera yang kerpa disebut Sumatera Fracture Zone.

Gunung  Sumatera dan Jawa merupakan bagian dari busur Sunda, akibat dari gerakan  timur laut dari Lempeng Indo-Australia yang meluncur di bawah Lempeng  Eurasia yang bergerak ke arah timur. Zona  subduksi di daerah ini sangat aktif. Dasar laut dekat pantai barat Sumatera memiliki beberapa gempa bumi besar sejak tahun 1995, termasuk  Gempa 9,3 Samudra Hindia pada tahun 2004 dan 8,7 2005 gempa Sumatera, epicenters di  antaranya sekitar 300 km dari Toba. (laporan roesman/disarikan dari berbagai sumber)



 

Arsip Berita