Rabu, 23 Mei 2012
Jember : Beralih Ke Tanaman Lain, Lahan Tebu Berkurang
Minggu, 13 Juni 2010 10:00
AddThis Social Bookmark Button

JAKARTA, 13/6 (Sigap) - Luas lahan perkebunan tebu rakyat di Kabupaten Jember, Jawa Timur, terus berkurang karena banyak petani tebu beralih ke tanaman lain yang lebih menguntungkan.

Ketua Paguyuban Petani Tebu Rakyat (PPTR) Jember Mohammad Ali Fikri, Minggu, mengatakan, luas lahan tebu rakyat di Jember mengalami penurunan karena petani tebu beralih menanam tanaman lain yang menguntungkan seperti jeruk dan tembakau.

"Banyak petani tebu yang mengeluh menanam tebu, meski harga gula di pasaran sempat melambung tinggi," ucap Fikri.

Pada September 2009, sekitar 100 petani tebu membakar lahan mereka seluas satu hektare di Kecamatan Tanggul untuk memprotes kenaikan harga gula yang tidak pernah dinikmati petani tebu.

Luas lahan tebu rakyat di Jember pada 2008 mencapai 7.638 hektare (ha), pada 2009 seluas 6.058 ha, dan 2010 menurun menjadi 4.400 ha saja.

Sejauh ini, kata dia, para petani tebu di Jember juga menjual hasil panennya ke pabrik gula yang berada di luar Kabupaten Jember karena lebih menguntungkan.

"Memang benar, banyak petani yang tidak menjual hasil panennya ke Pabrik Gula (PG) Semboro di Jember," paparnya.

Secara terpisah, Kepala Bidang Budi Daya Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Jember Masykur mengatakan, data di Dishutbun tercatat lahan tebu di Jember pada 2009 seluas 9.000-11.000 ha, sedangkan pada 2010 seluas 6.000-7.000 ha.

"Memang benar, jumlah areal tebu di Jember berkurang tiap tahun karena petani tebu mulai beralih menanam tanaman lain yang lebih menguntungkan," tutur Masykur.

Banyak orang beranggapan naiknya harga gula akan berdampak pada kesejahteraan petani tebu, namun hal tersebut tidak dirasakan oleh petani tebu di Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Salah seorang petani Tebu di Kecamatan Semboro, Samuji Zarkasih, mengatakan tingginya harga gula di pasaran hanya dinikmati oleh pedagang dan investor saja, sedangkan petani tebu tetap terpuruk.

Harga tebu dari petani ditentukan melalui proses lelang, yang dikelola oleh koperasi, asosiasi petani, dan pabrik gula. Tahun ini, harga tebu melalui proses lelang disepakati Rp6.600,00 perkilogram.

"Meski harga di pasaran sekitar Rp11 ribu sampai Rp12 ribu, petani tetap mendapatkan harga tebu Rp6.600,00 per kg," kata petani yang menjadi anggota DPRD Jember periode 2009-2014 ini.

Ia menjelaskan, biaya produksi satu hektare dan sewa lahan petani tebu di Jember mencapai Rp24 juta, namun setelah panen petani bisa mendapatkan Rp30 juta.

"Petani bisa mendapatkan keuntungan menanam tebu, asalkan lahan tebu tidak diserang hama dan panen di lahan itu berhasil 100 persen," kata politsi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini.

Namun, tidak jarang petani tebu harus gulung tikar dan bangkrut karena lahan tanaman tebu terkena penyakit dan terendam banjir seperti yang terjadi di Jember pada tahun 2008 lalu.

"Banyak orang yang berpendapat hidup petani tebu semanis rasa gula, namun tidak demikian, selama kebijakan pemerintah tidak berpihak kepada petani," tuturnya.

Saat harga gula tinggi di pasaran, petani tebu tidak memiliki persediaan, sehingga para petani tetap membeli gula dengan harga tinggi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Ini sangat menyakitkan bagi petani tebu, kami tidak merasakan manisnya harga tebu yang melambung kisaran Rp12 ribu. Kami juga mengeluhkan tingginya harga gula yang tidak terjangkau oleh masyarakat miskin," ujarnya lirih. (laporan wa prasetia/ant)

 

Arsip Berita