Rabu, 23 Mei 2012
Dinas Pertanian: Serangan Ulat Bulu Di Bojonegoro Meluas
Jumat, 15 April 2011 04:33
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 15/4 (SIGAP) - Serangan ulat bulu di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur semakin meluas. Serangan ulat bulu dikabarkan tidak hanya di pohon, tetapi juga mulai memasuki rumah warga.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro Subekti, di Bojonegoro, Jum'at (15/4) mengatakan, serangan hama ulat bulu mulai ditemukan di sejumlah wilayah di kabupaten ini, dan tidak hanya menyerang pohon, tetapi juga mulai memasuki rumah warga.

Menyusul kemunculan ulat bulu di sejumlah pohon di sekitar gedung SD Negeri Ngablak, di Desa Ngablak, Kecamatan Dander, dan di sejumlah pohon di lingkunan kantor pemkab setempat, ulat bulu juga ditemukan di permukiman warga di Kecamatan Purwosari.

"Memang yang masuk rumah warga tidak banyak, namun tetap perlu diwaspadai," katanya.

Dirinya mengatakan, jajarannya mulai petugas penyuluh lapangan (PPL) dan petugas pengamat hama (PPH), diminta terus melakukan pemantauan di wilayahnya masing-masing. Pada prinsipnya, kalau memang di wilayah tertentu ditemukan ulat bulu, secepatnya akan dilakukan pembasmian.

"Ada beberapa jenis obat pembasmi ulat yang kami persiapkan untuk menghadapi serangan ulat bulu," katanya menjelaskan.

Menurut Subekti, serangan ulat bulu di wilayahnya belum merusak tanaman. Namun, kalau serangan ulat bulu tersebut, tidak dicegah pada akhirnya tetap bisa mengancam tanaman, karena jenis ulat bulu itu memakan daun.

Salah seorang warga di Desa Ngroworejo, Kecamatan Kota, Kliwon (49) mengatakan, dalam beberapa hari terakhir di desanya ditemukan ulat bulu yang menempel di pohon. Dirinya mencontohkan dua pohon johar dan satu pohon randu milik Munandar, warga setempat, terpaksa harus ditebang karena dipenuhi dengan ulat bulu.

"Tiga pohon milik Munandar terpaksa ditebang, dan kemudian dijual. Tiga pohon harganya Rp30 ribu," katanya.

Berdasarkan pantauan SIGAP, Kementerian Pertanian akan menerjunkan tim ahli ke berbagai lokasi untuk membasmi ulat bulu yang menyerang pepohonan di sejumlah wilayah.

Setidaknya hal ini dikemukan Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurti. "Kami juga menyediakan insektisida dan pestisida sebagai alternatif terakhir pembasmian ulat bulu, selain mengupayakan predator atau musuh alami ulat tersebut," katanya di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Kamis (14/4).

Menurutnya, wabah ulat bulu merupakan siklus yang biasa terjadi setiap tahun. Namun, populasi atau jumlah ulat bulu yang ada saat ini jauh lebih banyak dibandingkan biasanya karena adanya perubahan iklim. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita