Rabu, 23 Mei 2012
Dinas Kehutanan Tabalong Kembangkan Gaharu
Kamis, 14 April 2011 04:47
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 14/4 (SIGAP) - Dinas kehutanan Tabalong, Kalimantan Selatan, mulai mengembangkan tanaman gaharu sebagai salah satu usaha produksi hutan nonkayu.

Pejabat teknik pelaksana proyek (PPTK) pengembangan gaharu Syarif Hidayat, di Tanjung, Kamis (14/4) mengatakan, penanaman gaharu telah dilaksanakan di tiga lokasi, yakni Desa Juai dan Wayau di Kecamatan Tanjung, serta Desa Seradang di Kecamatan Haruai.

"Potensi gaharu di hutan alam Tabalong sebenarnya cukup besar karena itu akan kita lakukan inventarisasi di samping pengembangan melalui budidaya," kata Syarif.

Dirinya mengatakan, untuk kebutuhan bibit gaharu masih membeli dari luar daerah karena persemaian di Tabalong belum mampu membuat atau memenuhi kebutuhan benih tersebut.

"Sebenarnya sejak 2007 kita sudah melakukan uji coba penanaman gaharu di Desa Seradang Kecamatan Haruai seluas satu hektare, namun belum bisa melakukan pembenihan karena harus membeli dari luar Tabalong," katanya.

Selain mengembangkan tanaman gaharu, Dinas Kehutanan juga melakukan uji coba penyuntikan inokulan yang mengandung jamur fusarium untuk merangsang produksi gubal atau resin.

Jamur fusarium sendiri merupakan bantuan dari Litbang Kehutanan Bogor yang diberikan kepada Dinas Kehutanan Tabalong.

"Sebelumnya kita sudah mengajak petani Desa Juai dan Seradang mengikuti pelatihan budidaya gaharu ke Litbang Bogor dan mendapatkan bantuan inokulen untuk membantu produksi resin," katanya.

Biasanya gaharu akan bisa memproduksi resin di atas umur tujuh tahun dengan diameter sekitar 20 cm, dan saat ini harga resin mencapai Rp5 juta per kilogram, bahkan lebih tergantung kualitas yang dihasilkan.

Berdasarkan catatan SIGAP, Provinsi Bengkulu tahun 2011 ini juga akan mengembangkan tanaman budi daya gaharu kayu alam dan pembibitan dalam rangka menjadi wilayah produksi terbesar getah gaharu dimasa depan.

Dinas Kehutanan Bengkulu menyatakan, ke depan tanaman tumbuh alam dan kecambah gaharu akan dikembangkan kepada masyarakat dengan pola teknologi modern, karena daerah ini sangat potensi bagi pengembangan kayu tersebut.

Sementara Kabupaten Sragen, Jawa Tengah juga akan dikembangkan sebagai daerah penghasil kayu gaharu (Aquilaria malaccensis).

Kabupaten Sragen menilai tanaman gaharu dapat menjadi potensi unggulan di kabupaten tersebut selain padi organik, garut, jagung, kacang tanah, maupun ikan lele.

Saat ini kayu gaharu merupakan komoditas hasil hutan bukan kayu komersial yang bernilai tinggi. Pohon kayu gaharu tersebut dimanfaatkan untuk bermacam-macam hal, seperti pembuatan kosmetik, parfum, dan obat-obatan.

Seperti diketahui, harga minyak atsiri dari kayu gaharu sendiri dapat mencapai Rp300 juta setiap liter. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita