Selasa, 22 Mei 2012
Kabupaten Pesisir Diminta Lengkapi Sirene Tsunami
Selasa, 12 April 2011 03:11
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 12/4 (SIGAP) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bengkulu meminta 6 kabupaten di wilayah pesisir setempat melengkapi sistem peringatan dini tsunami berupa pemasangan sirene.

"Kota sudah punya dua sistem peringatan dini, ada dua unit sedangkan di enam kabupaten pesisir belum ada sama sekali. Jadi kami meminta pemerintah daerah agar memprioritaskan pengadaannya," kata Kepala BPBD Provinsi Bengkulu, Sadikin, di Bengkulu, Selasa.

Dirinya mengatakan, 10 kabupaten dan kota di Bengkulu rawan gempa karena letaknya di pertemuan antara lempeng Indoaustralia dengan Eurasia.

Namun, katanya, wilayah yang rawan tsunami khususnya di tujuh kabupaten dan kota.

Kabupaten di pesisir yang belum memiliki sistem peringatan dini tsunami tersebut yakni Kabupaten Muko Muko, Bengkulu Utara, Bengkulu Tengah, Seluma, Kaur, dan Bengkulu Selatan.

Padahal, wilayah pesisir termasuk daerah paling rawan gempa bumi dan tsunami karena Bengkulu berada di pertemuan lempeng Indoaustralia dengan Eurasia.

Termasuk Pulau Enggano yang masuk wilayah Kabupaten Bengkulu Utara yang dihuni 2.700 jiwa, katanya, harus diprioritaskan.

Dirinya mengatakan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 2011 memberikan bantuan kepada daerah itu namun sebagian besar berupa kendaraan dapur umum dan tanki air bersih.

"Bantuan alat penanggulangan bencana dari BNPB memang ada tahun ini, tapi bukan alat sistem peringatan dini tsunami atau deteksi gempa," katanya.

Pihaknya juga mengusulkan pengadaan sirene tsunami kepada BNPB sebab kebutuhan sistem peringatan dini tersebut cukup tinggi.

Dirinya mencontohkan sirene tsunami di Kota Bengkulu jangkauan bunyinya hanya radius dua kilometer.

"Artinya tidak cukup dua atau tiga unit, karena jangkauannya terbatas berarti harus dipasang lebih banyak," katanya.

Koordinator Kepala Suku Pulau Enggano, Iskandar Zulkarnain Kauno, meminta pemerintah memprioritaskan pemasangan peralatan peringatan dini tsunami di pulau itu karena termasuk daerah rawan gempa dan tsunami.

"Kami meminta pemerintah memprioritaskan Pulau Enggano karena daerah kami rawan gempa bumi dan tsunami tapi peralatan peringatan dini tsunami belum ada," katanya.

Gempa besar berkekuatan 7,3 Skala Richter pada 2000 dan 7,9 SR pada 2007 juga terasa sangat kuat di Enggano.

"Bahkan masyarakat sudah banyak yang mengungsi, padahal di sini daerah yang tinggi sangat jauh dari pemukiman penduduk," katanya. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita