Selasa, 22 Mei 2012
Pemprov NTB Iimbau Petani Sesuaikan Jenis Tanaman
Selasa, 12 April 2011 02:37
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 12/4 (SIGAP) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mengimbau petani untuk menyesuaikan jenis tanaman sesuai dengan kondisi iklim agar tidak mengalami kerugian.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Nusa Tenggara Barat (NTB) H. Abdul Ma'ad di Mataram, Selasa (12/4) mengatakan, petani yang sudah menanam jagung di lahan kering tidak menanam jagung lagi pada musim tanam kedua tahun ini. "Tanamlah palawija jenis lain seperti kacang hijau. Begitu juga dengan petani padi di lahan sawah," katanya.

Dirinya mengatakan, data yang diperoleh dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan beberapa wilayah di NTB, seperti Lombok Tengah bagian selatan, sebagian wilayah di Lombok Utara dan sebagian wilayah di Pulau Sumbawa, akan mengalami musim kemarau lebih awal yakni pada akhir Mei 2011.

Kondisi musim kemarau akan menyebabkan terbatasnya persediaan air untuk mengairi tanaman pertanian. Oleh sebab itu, petani di lahan basah disarankan untuk menanam palawija, sedangkan di lahan kering yang sudah ditanami jagung pada musim tanam pertama disarankan menanam kedelai atau kacang hijau.

Upaya melakukan pergantian tanaman perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang muncul akibat menanam tanaman sejenis berulang-ulang pada lahan yang sama.

Selain rentan terhadap serangan OPT, kata Ma'ad, menanam satu jenis tanaman terus menerus pada lahan yang sama berisiko terjadinya penurunan produksi akibat tanah yang sudah jenuh.

"Akibat terus menerus ditanami tanaman sejenis, lahan satu hektare (ha) yang berpotensi menghasilkan jagung 10 ton bisa turun menjadi enam ton. Begitu juga dengan padi yang biasa enam ton per ha turun menjadi empat ton per ha," ujarnya.

Selain mengimbau petani melakukan pergantian jenis tanaman, kata Ma'ad, pemerintah juga sudah melakukan langkah antisipasi untuk menjaga kemungkinan terjadinya serangan OPT akibat pengaruh kondisi iklim yang belum menentu.

Langkah antisipasi itu seperti menyediakan obat-obatan pertanian untuk mengendalikan serangan OPT. Zat pembasmi hama tersebut merupakan bantuan dari Kementerian Pertanian.

Obat-obatan pertanian tersebut didistribusikan sesuai jumlah permintaan kabupaten/kota. Namun sampai sekarang ini permintaan belum terlalu banyak.

Selain menyediakan sarana pengendali hama dan penyakit, kata Ma'ad, pihaknya juga menjalin koordinasi dengan Badan Koordinasi Penyuluh (Bakorluh) Pertanian, Perikanan dan Kehutanan untuk mengoptimalkan Sekolah Lapang Pengelolaan Pertanian Terpadu (SL-PTT).

"Dengan berbagai upaya itu, mudah-mudahan target pencapaian produksi terutama gabah kering giling (GKG) sebanyak dua juta ton yang dibebankan pemerintah pusat kepada NTB tahun ini bisa terwujud. Begitu juga dengan target produksi tanaman pangan lainnya," ujar Ma'ad. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita