Selasa, 22 Mei 2012
CIFOR Sarankan Indonesia Prioritaskan Hutan Bakau
Senin, 11 April 2011 04:36
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 11/4 (SIGAP) - Lembaga Pusat Riset Kehutanan Internasional (CIFOR) menyarankan Indonesia agar lebih memprioritaskan hutan bakau untuk dikonservasi sebagai salah satu cara mengatasi perubahan iklim.

"Pembicaraan tentang peran penting hutan lahan basah tropis di perubahan iklim dapat diperlebar untuk mengikutsertakan bakau," kata Peneliti Senior dari CIFOR, Daniel Murdiyarso, dalam seminar tentang lahan basah di Denpasar, Bali, Senin (11/4).

Daniel menjelaskan, hasil penelitian dari CIFOR dan US Forest Service memperlihatkan hutan bakau ternyata menyimpan jauh lebih banyak karbondioksida dibandingkan hutan tropis.

Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam makalah berjudul "Carbon-rich tropical mangroves and climate change mitigation in a time of rising seas" (Bakau Tropis yang kaya karbon dan mitigasi perubahan iklim di tengah naiknya permukaan laut) dalam terbitan terbaru "Nature GeoScience".

Dikatakan Daniel, bakau memiliki banyak sifat yang sama dengan lahan gambut, seperti penyimpanan karbon di bawah permukaan yang sangat tinggi dan menghadapi deforestasi dan degradasi besar-besaran. "Bakau semestinya mendapatkan tingkat perlindungan sama seperti gambut," katanya.

Daniel mengatakan, Indonesia perlu memperhatikan kepada hutan bakau sebesar perhatian kepada hutan gambut dan mengembangkan kebijakan-kebijakan yang lebih baik lagi untuk melindungi hutan bakau.

"Keterlibatan pemerintah lokal dan masyarakat setempat merupakan kunci suksesnya kebijakan," katanya.

CIFOR menyarankan pemerintah untuk membuat kebijakan yang menerapkan REDD plus yang memprioritaskan ekosistem yang kaya karbon seperti gambut dan bakau.

Kebijakan pemerintah tersebut akan memberi keuntungan tambahan seperti keanekaragaman hayati dan memiliki sisi adaptasi selain mitigasi perubahan iklim.

"Pemahaman yang baik dari pemerintah daerah dengan perda yang harmonis dan pro lingkungan, tata kelola yang baik, dan tata ruang yang jelas dan dipatuhi semua pihak," katanya.

Dalam penelitian CIFOR-US Forest Service, memperlihatkan hutan bakau mempunyai empat kali lebih padat menyimpan karbondioksida dibandingkan hutan tropis di daratan tinggi.

Sedangkan pembukaan dan kerusakan ekosistem bakau diperkirakan 10 peren dari emisi deforestasii global, meski luas hutan mangrove hanya 0,7% dari total luas hutan tropis.

Data satelit terakhir menunjukkan bahwa Indonesia mempunyai 3,1 juta hektare hutan bakau yang merupakan seperempat dari total luas hutan bakau dunia.

Sedangkan Kalimantan telah kehilangan sekitar 8% luas hutan bakau pada kurun 2000-2005.

Sementara itu, Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Angelina Sondakh, mengingatkan pentingnya upaya pengelolaan potensi hutan mangrove (bakau) sebagai benteng perlindungan untuk bencana di Indonesia.

Hal ini dikemukakan Angelina di Jakarta, Senin (11/4), setelah menerima informasi tentang hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait kinerja pengelolaan hutan mangrove di kawasan Selat Malaka yang diungkapkan pada Rapat Paripurna DPR RI (6/4).

Angelina, yang juga 'duta orang utan' se-Dunia itu mengharapkan pemerintah melalui Kementerian Kehutanan dan Kementerian Lingkungan Hidup mulai sekarang bergiat segera merencanakan dan melaksanakan program bagi rehabilitasi hutan 'mangrove' secara optimal.

"Ini penting sekali demi terciptanya alam yang bersahabat dengan manusia, sehingga dapat mendukung lestarinya ibu pertiwi," pungkas Angelina Sondakh seperti dikutip ANTARA. (laporan rusman/ant)





 

Arsip Berita