Selasa, 22 Mei 2012
NTT: Korban Banjir di Pengungsian Kehabisan Bahan Makanan
Senin, 11 April 2011 03:45
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 11/4 (SIGAP) - Para pengungsi banjir di Kabupaten Belu bagian selatan, NTT, mulai kehabisan bahan makanan setelah tiga hari mengungsi di SDK Besikama I dan Kantor Camat Malaka Barat, akibat perkampungan dan ladang mereka terendam banjir.

Setidaknya hal dikatakan Yohanes Seran (39), seorang pengungsi asal Dusun Bekolo, Desa Lasaen ketika dihubungi dari Kupang, Senin pagi (11/4).

"Sudah tiga hari ini, kami hanya merebus pisang untuk makan karena ketiaadaan bahan makanan. Kami bersyukur masih ada perhatian dari susteran Betun untuk memberi kami makanan, terutama balita dan anak-anak serta ibu hamil dan para lansia," katanya.

Menurut Yohanes Seran, dua dusun di wilayah Desa Lasaen, Kecamatan Malaka Barat yang paling parah terkena rendaman banjir akibat meluapnya Sungai Benenai adalah Dusun Bekolo dan Umamota.

"Ada sekitar 81 kepala keluarga (282 jiwa) warga Dusun Bekolo mengungsi di SDK Besikama I, sedang 25 kepala keluarga asal Dusun Umamota mengungsi di Kantor Camat Malaka Barat. Kami semua sudah kehabisan bahan makanan," kata Seran menambahkan.

Yohanes Seran yang juga calon anggota Dewan Perwakilan Desa (DPD) Lasaen itu mengatakan dalam dua tahun terakhir ini, para petani di dua dusun tersebut tidak bisa menanam padi dan palawija seperti jagung, ubi, dan kacang-kacangan karena banjir.

"Selama dua tahun terakhir ini, kami tidak bisa berbuat apa-apa karena tingginya curah hujan di wilayah Kabupaten Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan dan Belu bagian selatan yang kemudian memicu luapan Sungai Benenain," katanya.

Menurutnya, luapan Sungai Benenain itu mulai membuka daerah aliran baru yang mengarah ke permukiman penduduk dan areal perladangan petani, sehingga membuat para petani setempat gagal tanam.

Pada Minggu (10/4) malam, pemerintah Kabupaten Belu menyalurkan beras sekitar satu ton ke wilayah Kecamatan Malaka Barat untuk para korban bencana banjir di selatan Kabupaten Belu itu.

Camat Malaka Barat Eduardus Klau kemudian mengambil kebijakan untuk mendistribusi beras bantuan tersebut ke semua desa yang terkena banjir di wilayah kecamatannya.

"Kami kurang setuju dengan kebijakan Pak Camat (Camat Malaka Barat) tersebut, karena tidak memprioritaskan bantuan tersebut untuk para pengungsi yang ada di SDK Besikama I dan di Kantor Camat Malaka Barat," kata Seran menegaskan.

Menurutnya, bantuan tersebut seharusnya diprioritaskan kepada para pengungsi yang telah kehabisan bahan makanan, bukan kepada semua warga yang ada di desa-desa yang dilanda banjir.

Dirinya menambahkan warga yang masih bertahan di desa-desa itu, punya stok makanan lokal seperti jagung dan umbi-umbian, sementara para pengungsian sudah kehabisan bahan makanan.

"Dalam dua tahun terakhir ini kami tidak lagi berladang, karena hujan sepanjang musim yang kemudian memicu luapan Sungai Benenain sehingga para petani tidak bisa menanam jagung, ubi, padi, serta kacang-kacangan," katanya.

Yohanes Seran mengharapkan pemerintah dapat menaruh perhatian kepada para pengungsi banjir yang ada di dua lokasi tersebut, karena ada balita dan anak-anak serta ibu hamil dan para lansia yang sangat membutuhkan bahan makanan.

Seperti yang diberitakan SIGAP sebelumnya, para pengungsi banjir di Kabupaten Belu bagian selatan, Nusa Tenggara Timur, membutuhkan bantuan selimut dan kasur terutama bagi balita dan anak-anak di penampungan SDK Besikama I di wilayah Kecamatan Malaka Barat.

Setiap musim hujan, masyarakat di Belu selatan selalu menjadi korban banjir dari luapan Sungai Benenai, karena tingginya curah hujan di wilayah Kabupaten Timor Tengah Utara dan Kabupaten Timor Tengah Selatan serta Belu bagian selatan. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita