Selasa, 22 Mei 2012
Dinkes: Leptospirosis Kembali Memakan Korban
Rabu, 06 April 2011 09:05
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 6/4 (SIGAP) - Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta menyatakan penyakit leptospirosis kembali menyebabkan kematian, kini sudah tercatat sebanyak lima korban meninggal dunia akibat penyakit yang dibawa kencing tikus tersebut.

Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Fita Yulia di Yogyakarta, Rabu (6/4) mengatakan, hingga saat ini sudah ada 17 kasus leptospirosis di Kota Yogyakarta. Hingga awal April, baru ada empat korban meninggal dunia, namun kini korban kembali bertambah sehingga sudah ada lima penderita yang meninggal dunia.

Menurut Fita, korban leptospirosis yang meninggal dunia tersebut adalah korban yang biasanya terlambat memperoleh penanganan medis.

"Penyakit ini memiliki gejala yang hampir sama dengan penyakit lainnya, seperti demam tinggi, mual dan pusing. Namun salah satu ciri yang benar-benar pantas diwaspadai adalah pegal di bagian betis. Jika mengalami ciri-ciri seperti ini, maka masyarakat diminta untuk segera memeriksakan diri di rumah sakit," katanya.

Penyebaran penyakit leptospirosis di Kota Yogyakarta baru terjadi pada 2010 dengan jumlah korban sebanyak tiga orang namun tidak ada yang meninggal dunia.

Kenaikan jumlah kasus penyakit leptospirosis di Kota Yogyakarta pada 2011 tersebut belum membuat Pemerintah Kota Yogyakarta menetapkan kondisi tersebut sebagai sebuah kejadian luar biasa (KLB) karena dikhawatirkan akan menimbulkan kepanikan masyarakat.

"Namun, Dinas Kesehatan sebagai pelayan masyarakat di bidang kesehatan telah melakukan seluruh upaya bahwa kondisi ini masuk dalam KLB," katanya.

Upaya yang telah ditempuh Dinas Kesehatan di antaranya adalah berkoordinasi lintas satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di Kota Yogyakarta seperti dengan Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan).

"Kami akan mencetak leaflet tentang antisipasi penyakit leptospirosis sebagai upaya sosialisasi ke masyarakat. Selebaran itu akan disebar hingga ke rukun warga (RW)," katanya.

Dinas Kesehatan juga meminta kepada puskesmas atau rumah sakit untuk segera memberikan laporan dalam waktu 24 jam apabila terdapat pasien yang menderita leptospirosis.

Penyakit tersebut banyak menimbulkan kematian apabila tidak ditangani secara cepat karena merusak organ, seperti ginjal, liver, jantung bahkan otak.

"Saat ini, semua orang harus mewaspadai penyakit ini. Masyarakat tidak tahu tikus mana yang membawa penyakit ini. Karenanya, kebersihan lingkungan harus benar-benar dijaga," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pertanian Disperindagkoptan Kota Yogyakarta Benny Nurhantoro mengatakan, penyebaran bakteri leptospira yang menyebabkan penyakit leptospirosis ditengarai tidak hanya terjadi di persawahan tetapi juga menyebar di gorong-gorong karena memiliki kondisi gelap dan lembab.

"Masyarakat yang tinggal di dekat gorong-gorong juga diminta untuk selalu membersihkan lingkungannya. Menjaga agar tikus tidak masuk ke rumah," katanya. (laporan sofyan badrie/ant)

 

Arsip Berita