Selasa, 22 Mei 2012
KPA: 27 Penderita AIDS Babel Meninggal
Selasa, 05 April 2011 03:19
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 5/4 (SIGAP) - Pari Pusta, Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) di Pangkalpinang, Selasa (5/4) mengatakan, sebanyak 27 orang dari 30 penderita AIDS di Bangka Belitung (Babel), meninggal pada 2010 karena terlambat berobat ke klinik spesial HIV/AIDS, sementara 3 penderita lainnya yang masih hidup harus minum obat seumur hidup.

"Saat para penderita datang memeriksakan diri ke klinik kondisinya sudah parah, sehingga tim medis tidak bisa berbuat banyak untuk memberikan pertolongan," ujar

Dirinya menjelaskan, penderita yang datang ke klinik penanganan HIV/AIDS rata-rata kondisinya sudah parah, seperti kurus, berak darah, dan tokso, sehingga sudah sulit untuk diselamatkan.

"Padahal mereka dilayani secara gratis atau ditanggung pemerintah seperti obat-obatan CST, Doviral dan ARV yang bisa diambil di klinik AIDS yang tersebar di seluruh Indonesia dengan menunjukkan kartu layanan obat yang dikeluarkan Dinas Kesehatan," ujarnya.

"Kondisi ini sangat disayangkan bukan saja pada pasien yang seharusnya bisa bertahan hidup lebih lama, tetapi penyebarannya yang dapat membawa penderitaan serupa pada orang lain," ujarnya.

Menurut Pari Pusta, seharusnya penderita tidak perlu malu memeriksakan diri ke klinik, demi kebaikan diri sendiri dan orang lain dan masyarakat juga harus bijaksana dengan tidak memandang penderita dari segi negatif yang membuat mereka merasa terhukum secara sosial.

Dirinya mengharapkan masyarakat yang potensial tertular virus HIV untuk segera mengunjungi klinik untuk melakukan pengecekan dan secara rutin konsultasi, untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk karena katerlambatan dalam penanganan.

Sementara 80 kasus HIV pada 2010 di Babel dengan rincian 68 orang diharuskan minum obat menjaga daya tahan tubuh dan 12 orang belum dianjurkan karena kondisi kekebalan tubuhnya masih bagus.

KPA Babel dalam melakukan penyuluhan bermitra dengan LSM seperti Ikatan Waria Babel (IWABABEL), Komunitas Pekerja Seks OPSI/Organisasi Perubahan Sosial Indonesia), LSM T2H2P, LSM Babel Peduli AIDS, dan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Pelangi yang anggotanya para penderita HIV.

"KPA selalu membuka kesempatan kepada siapa saja yang ingin bergabung untuk bersama-sama menanggulangi HIV/AIDS di Babel", katanya.

Dirinya menambahkan, KDS Pelangi yang beranggotakan sekitar 30 orang selalu mengadakan pertemuan sebulan sekali, diisi dengan diskusi mendatangkan narasumber dari berbagai kalangan.

"Tetapi tak jarang pertemuan ini juga hanya sekedar berkumpul untuk membina keakraban dan saling menguatkan mental masing-masing anggotanya," ujarnya.

Dirinya mengatakan, pihak KPA masih kesulitan mengumpulkan penderita virus HIV yang lain, karena tersebar di berbagai tempat dan masih melakukan aktifitas masing-masing, sehingga dikahawatirkan bisa menyebarkan virus HIV jika melakukan hubungan seks tanpa alat kontrasepsi," ujarnya.

Pari Pusta mengharapkan komitmen pemerintah dan para mitra kerja untuk lebih serius dalam penanganan kasus HIV/AIDS dan kucuran dana dari pemerintah diberikan kepada kelompok atau komunitas penderita HIV/AIDS, bukan kepada lembaga swadaya masyarakat yang banyak hanya tinggal namanya saja.

"Semoga penghargaan kepedulian penanggulangan HIV/AIDS yang akan diterima Babel tahun ini, bisa menjadi pelecut semangat pemerintah daerah untuk lebih serius menanggulangi HIV/AIDS di Babel," katanya. (laporan panji al husen/ant)

 

Arsip Berita