Selasa, 22 Mei 2012
Abrasi Pantai Picu Kerusakan Hutan Mangrove Sulsel
Senin, 04 April 2011 03:56
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 4/4 (SIGAP) - Abrasi pantai menjadi salah satu pemicu kerusakan hutan mangrove atau bakau di Sulawesi Selatan yang kini mencapai 50 persen dari sekitar 132.900 hektare habitat hutan bakau di daerah ini.

Direktur Eksekutif Jurnal Celebes Mustam Arif di Makassar, Senin (4/4) mengatakan, kerusakan hutan bakau di Sulsel sudah sangat memprihatinkan, karena selain habitat bakau makin berkurang, turut mempengaruhi kurangnya sumber daya hayati di wilayah pesisir.

Menurut pemerhati lingkungan ini, untuk merehabilitasi hutan bakau di Sulsel perlu dilakukan secara terpadu dengan melibatkan semua pihak.

"Bukan hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat yang berkecimpung di wilayah pesisir dan pihak terkait lainnya," ujarnya.

Mengenai makin bekurangnya sumber daya pesisir, dirinya mengatakan, para nelayan kini semakin sulit mencari ikan maupun kepiting di wilayah pesisir khususnya di sekitar hutan bakau.

Selain abrasi pantai yang menjadi pemicu menipisnya hutan bakau di Sulsel, menurut dia reklamasi pantai juga menjadi pemicu, apalagi jika reklamasi itu tidak mempertimbangkan ekologi atau ekosistem.

"Di Makassar saja sudah ada dua kegiatan reklamasi pantai yakni Pantai Losari dan reklamasi pantai di Buloa, Kecamatan Tallo," katanya.

Salah seorang nelayan di Buloa, Kecamatan Tallo Badaruddin mengatakan sejak reklamasi di Buloa, ikan, kepiting atau kerang tidak ada lagi di wilayah pesisir.

"Kami terpaksa jauh ke tengah laut untuk mencari ikan atau kepiting, karena tidak ada lagi di pinggir pantai," katanya.

Berdasarkan catatan SIGAP, hutan mangrove atau disebut juga hutan bakau adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.

Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah; salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita