Selasa, 22 Mei 2012
BPBD Kerinci: Sangat Beresiko Jika RKE Dijadikan TPA
Minggu, 03 April 2011 10:40
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 3/4 (SIGAP) - Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kabupaten Kerinci mengingatkan Pemerinah Kota Jambi untuk dapat mempertimbangkan atau meninjau kembali rencana menjadikan desa Renah Kayu Embun (RKE) menjadi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah.

Kepala BPBD yang juga tokoh masyarakat Kumun-Debai, di Jambi, Minggu (3/4) mengatakan, rencana Pemkot membangun TPA di RKE itu sangat tidak menghormati alam karena samasekali tidak mempertimbangkan dampak lingkungan.

Menurutnya, sangat beresiko menjadi sumber bencana rusaknya lingkungan di sekitarnya, karena bisa meningkatkan PH atau kandungan zat asam dalam tanah yang bisa berakibat pada hilang atau berkurangnya tingkat kesuburan tanah.

Kawasan RKE yang merupakan bagian paling terpencil dari kecamatan Kumun Debai itu berada di dataran tinggi deretan pematang pebukitan bukit barisan, desa berada diatas antara 1000 hingga 2000 m.dpl. Kawasan produktif desa tersebut mencapai 2000 hektar berupa perladangan masyarakat yang menanam komoditi Kayu Manis, Kopi dan tanaman agrikutura.

"Jika sampah kemudian dibuang ke kawasan tersebut otomatis akan sangat mempengaruhi kualitas air tanah yang disuplai kawasan tersebut ke desa-desa sekitarnya, yang kesemuanya berada di kaki bukit atau dataran rendah, tentu saja hal itu akan sangat berbahaya karena juga bisa menjadi sumber penyakit yang disebabkan oleh berkembangnya virus ebola melalui air tanah yang diminum oleh masyarakat," terang Basyarin.

Apalagi, tambahnya kawasan RKE tersebut berada dan menjadi bagian dari Taman Nasional Kerinci Seblat yang hijau dan lebat, menjadi bank oksigen bagi Kerinci. Jika tempat tersebut nantinya menjadi TPA otomatis keasrian udara akan tercemar oleh asap polusi akibat pembakaran dan aroma sampah.

Kondisi tersebut, imbuhnya, tidak pula menutup kemungkinan akan menjadi sumber bencana karena sampah yang nantinya menumpuk dan tidak terurai oleh tentu akan menyumpal pori-pori tanah sehingga dampaknya akan menyebabkan berkurangnya kawasan resapan air yang selama ini di suplai ke desa-desa di bawah bukit, jadi sangat kontraproduktif.

"Kita mengingatkan Pemkot bisa lebih jeli dalam memelih lokasi yang akan dijadikan arela TPA. Pasalnya dua dari tiga lokasi yang direncanakan akan dipilih adalah kawasan yang berada di ketinggian. Kondisi itu terntu berbahaya, yakni Renah Kayu Embun dan Tanjung Tanah, karena jika kawasan tersebut jadi TPA maka keberadaan sampah berada di tempat yang lebih tinggi dari kota," ucapnya.

Rencana Pemkot mendirikan TPA di Sungailiuk mental karena tidak mendapat persetujuan dari masyarakat setempat. Pasalnya masayrakat setempat menuntut ganti rugi lahan mereka yang terpakai dengan harga yang menurut Pemkot terlalu mahal. Kegagalan rencana itu semestinya tidak malah membut Pemkot gelap mata dan lalu sembarangan memilih lokasi lain.

"Pilihlah kawasan yang terletak di dataran rendah dan terbuka, jauh dari pemukiman dan kawasan produktif pertanian, jangan di kawasan di ketinggian bisa berbahaya memicu terjadinya bencana alam banjir, air bah, dan tanah longsor bagi kawasan di bawahnya. Juga bisa merusak sumber air tanah yang merupakan kebutuhan primer masyarakat," tegasnya.

Basyarin jua menyarankan, agar sebelum ditetakannya kawasan TPA Pemkot melakukan dengar pendapat dengan tokoh masyarakat setempat. Pemkot juga harus melibatkan konsultan Amdal dan ahli lingkungan lainnya. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita