Selasa, 22 Mei 2012
BGG Tanam 100 Ribu 'Mangrove' Di Babel
Rabu, 30 Maret 2011 04:08
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 30/3 (SIGAP) - Gerakan 'Bangka Goes Green' (BGG) menanam 100 ribu bibit bakau (Mangrove), untuk menghijaukan kembali kawasan pesisir pantai di Bangka Belitung (Babel) yang rusak, sebagai dampak penambangan bijih timah di wilayah perairan.

Kepala pengawas lapangan BGG Babel, Edi Kusnanto di Pangkalpinang, Rabu (30/3) mengatakan, dalam waktu dekat ini 100 ribu bibit bakau ditanam di sepanjang pesisir pantai Ketapang, Air Anyir dan Batu Rusa, melibatkan pemerintah daerah, LSM, pelajar dan nelayan.

'Bangka Goes Green' adalah sebuah gerakan kemasyarakatan yang dimotori pelaku industri pertimahan Babel yang berperan menyelamatkan lingkungan di Babel, dengan menghijaukan kembali lahan kritis dan juga aktif membantu masyarakat petani dan nelayan.

Edi menjelaskan, sebagian besar hutan bakau di sepanjang pesisir pantai Pulau Bangka mengalami kerusakan, sehingga mempengaruhi keseimbangan ekosistem pesisir pantai yang mengakibatkan biota laut seperti kepiting, ikan, udang dan lainnya terancam kepunahan.

"Selama 2010, kami sudah menanam 137 ribu bibit bakau di sepanjang pesisir pantai yang mengalami kerusakan akibat aktivitas penambangan bijih timah," ujarnya.

Dirinya mengatakan, penanaman bakau ini nantinya akan berdampak langsung terhadap hasil tangkapan ikan dan kesejahteraan keluarga nelayan pesisir pantai, karena bakau selain berfungsi menahan pantai dari gempuran gelombang tetapi juga tempat biota laut berkembang biak.

"Saat ini, banyak nelayan pesisir pantai yang tidak lagi menekuni pekerjaannya sebagai nelayan, karena sulit mencari ikan," ujarnya.

Menurutnya, gerombolan aneka ikan yang biasa bertelur dan berkembang biak di hutan bakau, namun kini pada pindah ke perairan yang lebih jauh yang kondisi perairan masih aman dari pencemaran air laut akibat aktivitas penambangan," ujarnya.

Namun demikian, katanya, tingkat hidup bibit bakau yang telah ditanam cukup rendah karena terserang hama teritip yang memakan daun dan batang bibit bakau yang ditanam.

"Sekitar 40 persen bibit bakau yang ditanam di sepanjang pesisir mati karena diserang hama teritip," ujarnya.

Untuk itu, kata Edi, pihaknya terus melakukan terobosan dengan melakukan kerja sama dengan Pemprov Bali dan Jepang yang dinilai berhasil mengantisipasi serangan hama teritip pada bibit bakau.

"Kami sudah melakukan penanaman bakau dengan metode menggunakan bambu untuk melindungi pohon dan daun bakau dari serangan hama dan metode tersebut cukup berhasil karena sebagian besar bakau yang ditanam hidup," ujarnya.

Untuk itu, kata Edi, diharapkan pemerintah daerah dan aparat kepolisian terus melakukan pengawasan penambangan bijih timah di pesisir pantai yang mengancam kelestarian hutan bakau.

"Pada satu sisi penambangan timah menguntungan masyarakat, namun di sisi lain merugikan masyarakat lainnya yang menggantungkan hidupnya dari tangkapan ikan," ujarnya.

SIGAP mencatat, mangrove merupakan ekosistem unik dengan fungsi yang unik dalam lingkungan hidup. Oleh karena adanya pengaruh laut dan daratan, di kawasan mangrove terjadi interaksi kompleks antara sifat fisika dan sifat biologi. Sifat fisik mangrove mampu berperan sebagai penahan ombak serta penahan intrusi dan abrasi laut. Proses dekomposisi serasah mangrove yang terjadi mampu menunjang kehidupan makhluk hidup di dalamnya.

Ekosistem mangrove sebagai salah satu ekosistem wilayah pesisir dan lautan sangat potensial bagi kesejahteraan masyarakat baik dari segi ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup namun semakin hari semakin kritis ketersediaannya. Di beberapa daerah pesisir di Indonesa sudah terlihat adanya pendegradasian ekosistem mangrove  akibat penebangan mangrove yang dilakukan secara berlebihan. Mangrove telah dirubah menjadi fungsi yang lain dikarenakan berbagai kegiatan pembangunan. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita