Senin, 21 Mei 2012
Pemkab Mura Siapkan Beras Untuk Warga Kesulitan Pangan
Rabu, 23 Maret 2011 05:04
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 23/3 (SIGAP) - Wakil Bupati Mura, Nuryakin di Puruk Cahu, Rabu (23/3) menyatakan, Pemerintah Kabupaten Murung Raya (Mura), Kalimantan Tengah, kini sedang siapkan bantuan beras untuk warga di Desa Tumbang Tohan, Kecamatan Seribu Riam, yang terancam kelaparan akibat gagal panen padi ladang.

"Persediaan beras bantuan bagi warga yang mengalami bencana alam atau krisis pangan di desa pedalaman itu, di gudang Bulog setempat sekitar 30 ton," katanya.

Menurut Nuryakin, saat ini pendataan warga yang kesulitan pangan di desa paling pedalaman Sungai Joloi (anak Sungai Barito) itu sedang dilakukan petugas dari Kantor Ketahanan Pangan Mura.

Kalau jumlah warga yang membutuhkan pangan sudah diketahui, kata dia, beras bantuan dan kemungkinan juga bibit padi segera disalurkan bagi masyarakat pedalaman tersebut

"Kita berharap dalam waktu dekat beras dan bantuan lainnya segera disalurkan bagi warga yang mengalami kesulitan pangan itu," katanya.

Nuryakin mengakui transportasi menuju sejumlah desa pedalaman terutama Desa Tumbang Tohan cukup sulit dan minim angkutan yakni untuk menjangkau desa terakhir di wilayah Kecamatan Seribu Riam yang berada di pedalaman Sungai Muara Joloi (anak Sungai Barito) ini transportasinya cukup sulit dan mahal bisa mencapai jutaan rupiah.

Warga harus menggunakan jasa taksi kapal cepat (speedboat) dari Puruk Cahu ke Desa Teluk Joloi Kecamatan Sumber Barito dengan jarak tempuh sekitar empat jam.

Meski ada angkutan murah menggunakan perahu bermotor (kelotok) namun bisa mencapai 12 jam itu hanya sampai Desa Teluk Joloi yang merupakan desa transit menuju desa pedalaman lainnya.

Kemudian dari Desa Teluk Joloi menggunakan jasa angkutan jalan darat mobil "dobel gardan" melalui jalan perusahaan hak pengusahan hutan (HPH) sekitar 60 kilometer lebih hingga `kamp B` atau Dusun Tabulus wilayah Desa Tumbang Naan Kecamatan Seribu Riam.

Selanjutnya dari kamp B dengan angkutan kelotok sekitar dua jam perjalanan menuju ke Desa Tumbang Naan, dari desa tersebut dilanjutkan kembali menyusuri hulu Sungai Joloi ke Desa Tumbang Tohan yang juga menggunakan jasa kelotok carteran sekitar Rp1,5 juta (kapasitas delapan orang) dengan jarak tempuh sekitar dua jam.

Transportasi menuju desa itu juga bisa dijangkau menggunakan angkutan udara dengan ikut pesawat capung (mendarat di air) berpenumpang empat orang milik yayasan keagamaan (misionaris) yang bisa mengangkut penumpang umum dengan tarif Rp550.000 per orang setiap Senin (satu pekan sekali) dari Puruk Cahu ke Desa Tumbang Naan dilanjutkan naik kelotok carteran hingga sampai Desa Tumbang Tohan.

"Memang sejumlah desa di pedalaman ini selalu mengalami krisis pangan mahalnya harga sembako itu sering karena jauhnya transportasi ke sana," katanya.

Sebelumnya Kepala Desa Tumbang Tohan Kecamatan Seribu Riam, Tunjung mengatakan saat ini sebagian besar masyarakat desa kesulitan pangan akibat gagal panen padi karena perubahan cuaca (anomali), sehingga berdampak pada makanan sehari-hari.

Selama ini masyarakat yang berada di desa paling pedalaman di kabupaten paling utara Kalteng yang mata pencarian sebagai berladang itu kesulitan selain tidak bisa menjual hasil pertanian juga kesulitan membeli beras.

Meski ada yang berprofesi mencari sarang burung walet di goa dan kayu gaharu di wilayah hutan kabupaten paling dalaman Sungai Barito ini, kata dia, usaha itu sudah tidak bisa diharapkan lagi karena mulai berkurang.

"Saat ini warga sangat menbutuhkan pangan, karena beberapa usaha masyarakat sudah tidak menjanjikan lagi," katanya.

Kondisi ini diperparah dengan jauhnya desa tersebut dari Puruk Cahu ibukota Kabupaten Mura, sehingga harga sembako sangat mahal misalnya harga beras kualitas sedang Rp750 ribu sampai Rp1 juta per karung (berat 25 kilogram) karena sulitannya tranportasi menuju desa pedalaman dan terisolasi serta minimnya transportasi tersebut.

Untuk bertahan hidup, katanya, warga menanam singkong untuk makan sehari-hari, namun tanaman tersebut tidak bisa diharapkan karena banyaknya babi hutan yang merusak kebun masyarakat.

"Kami mengharapkan bantuan pemerintah berupa beras dan bahan makanan lainnya yang sangat dibutuhkan masyarakat segera disalurkan," katanya. (laporan panji al husen/ant)

 

Arsip Berita