Minggu, 20 Mei 2012
Dinkes Ambon Teliti Penderita Gizi Buruk
Rabu, 23 Maret 2011 04:32
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 23/3 (SIGAP) - Kepala dinas Kota Ambon, Hans Liesay, di Ambon, Rabu (23/3) menyatakan, Dinkes Kota Ambon sedang meneliti penderita yang diduga gizi buruk yang diderita seorang balita warga desa Passo, kecamatan Baguala Kota Ambon.

"Kami sedang memeriksa seorang balita yang diduga menderita penyakit gizi buruk," katanya.

Menurut Hans, balita yang diduga menderita gizi buruk saat ini sedang ditangani Puskesmas Passo karena berat badan yang tidak memenuhi standar usia.

Dinkes Kota Ambon hingga Maret 2011 belum menerima laporan dari Puskesmas atau Rumah Sakit terkait kasus gizi buruk yang terjadi di kota itu.

Kasus gizi buruk yang terjadi di RSUD Dr Haulussy beberapa waktu lalu, bukan warga kota Ambon tetapi berasal dari Pulau Kelang, Seram Bagian Barat dan Desa Kampung Baru Ambalau, Buru Selatan.

Dirinya mengatakan, faktor ekonomi merupakan kendala utama karena orang tua kesulitan memberikan asupan makanan yang bergizi, seperti sayur mayur, buah dan susu.

"Faktor ekonomi merupakan kendala utama, selain itu pengetahuan orang tua tentang pengaturan gizi anak kurang, " katanya.

Diakuinya, pengetahuan dan perhatian orang tua dapat mengantisipasi terjadinya kasus gizi buruk masih kurang.

"Kenyataan yang terjadi pengetahuan dan perhatian orang tua guna mengantisipasi kasus gizi buruk masih kurang karena itu promosi kesehatan harus berkelanjutan,"ujar Hans.

Dirinya mengatakan, anak bila rutin diperiksa di posyandu maka sulit masuk dalam kategori gizi buruk karena dilakukan evaluasi berat badan hingga usia lima tahun.

"Berat badan anak ditimbang saat melakukan pemeriksaan di posyandu, sehingga dapat dievaluasi melalui kartu menuju sehat (KMS).Bila orang tua acuh untuk membawa anak ke Posyandu maka tidak akan diperoleh informasi " ujarnya.

Hans menambahkan, pihaknya terus melakukan promosi kesehatan melalui puskesmas maupun sosialisasi ke masyarakat dengan sasaran keluarga baru serta keluarga miskin mengenai pola makan anak, ASI eksklusif serta pemberian vitamin.

"Promosi kesehatan akan terus dilakukan ke masyarakat guna mencegah terjadinya kasus gizi buruk di kota Ambon," kata Hans.

Berdasarkan catatan SIGAP, kelaparan dan gizi buruk masih menjadi ancaman buat 1 miliar penduduk dunia. Indonesia oleh Global Hunger Index (GHI) masuk dalam kategori 'serius' yang berada di bawah level 'mengkhawatirkan' dan 'sangat mengkhawatirkan'.

GHI membuat lima kategori untuk negara yang masih mengalami masalah kelaparan dan gizi buruk. Mulai dari yang terjelek yakni 'sangat mengkhawatirkan','mengkhawatir kan','serius','moderat' dan 'rendah'.

Negara-negara di Sub-Sahara Afrika dan Asia Selatan tercatat memiliki tingkat kelaparan tertinggi, namun Asia Selatan telah membuat banyak kemajuan lebih sejak tahun 1990.

Di Asia Selatan, seperti yang dikutip laman metrotvnews.com, status gizi rendah, pendidikan dan sosial perempuan adalah salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap kejadian tingginya gizi buruk pada anak dan balita.

Sebaliknya di Sub-Sahara Afrika, efektivitas pemerintah yang rendah, konflik, ketidakstabilan politik dan tingginya tingkat HIV dan AIDS merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan tingginya angka kematian anak dan proporsi dari gizi buruk.

Dari data GHI 2010, diketahui bahwa 122 negara masih dalam tahap berkembang dan transisi, serta terdapat 29 negara masih memiliki tingkat kelaparan yang 'sangat mengkhawatirkan' dan 'mengkhawatirkan', antara lain Burundi, Chad, Republik Demokratik Kongo dan Eritrea (di Sub-Sahara Afrika). (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita