Minggu, 20 Mei 2012
Pemkab Blitar Pastika lokasi Transmigran Bebas Bencana
Senin, 21 Maret 2011 03:45
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 21/3 (SIGAP) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar, Jawa Timur, memilah dan memastikan lokasi tujuan transmigrasi bebas bencana, hingga mereka merasa aman tinggal di tempat yang baru.

Kepala Bidang Transmigrasi Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kabupaten Blitar Isbah Salimi di Blitar, Senin (21/3) mengatakan, kami terus pantau lokasi transmigrasi, termasuk memilih daerah yang memang tidak rawan bencana. Hal itu adalah bentuk tanggung jawab kami untuk memberikan fasilitas dan jaminan," kata

Dirinya mengatakan, kuota keluarga yang ikut program transmigrasi tahun 2011 ini mencapai 35 kepala keluarga (KK). Dari jumlah itu, rencananya 10 KK akan disebar di Boalemo, Gorontalo, 10 KK di Toli-toli, Sulawesi Tengah, dan sisanya di Kabupaten Tidore, Kepulauan Maluku Utara.

Kuota itu, katanya, juga lebih besar daripada tahun 2010 lalu yang jumlahnya hanya 23 KK. Ditargetkan, setiap tahun ada penambahan kuota keluarga yang ikut program yang ditujukan untuk pemerataan jumlah penduduk tersebut.

Dirinya mengaku, hingga kini belum melakukan penijauan lokasi tujuan transmigrasi tersebut. Pekan depan, rencananya akan berkunjung ke lokasi itu, demi memastikan kondisi alam dan lingkungan.

"Kami masih proses penjajagan dengan pemerintah daerah sana, supaya mengetahui langsung kondisi lingkungan," katanya.

Mereka yang ikut program transmigrasi lewat pemerintah, kata Isbah, juga mendapatkan fasilitas dari pemerintah, seperti jaminan hidup selama 1,5 tahun, hingga hak tanah dan bangunan seluas 2 hektare.

"Tetapi, yang ikut program transmigrasi swakarsa, mereka berangkat dan hidup atas biaya sendiri," katanya.

Menyinggung evaluasi yang dilakukan pemerintah, terkait dengan program ini, Isbah mengaku, ada beberapa kendala hingga keluarga yang sudah ikut program ini memilih kembali ke Jawa.

Beberapa kendala itu, antara lain sulitnya medan dan transportasi, hingga membuat mereka patah semangat, terbatasnya perlengkapan untuk membuka lahan baru, hingga budaya yang berbeda.

"Memang ada beberapa yang pulang setelah ikut program transmigrasi. Rata-rata kerena kondisi sulit dan mereka mendapatkan gangguan," katanya.

Untuk itu, kami tekankan untuk terus mengawasi keluarga yang ikut program ini dan memberikan pelatihan khusus sebelum berangkat ke tujuan, kata Isbah.

Dirinya berharap, dengan evaluasi dan memberi pelatihan khusus sebagai bekal hidup di sana, ikut menyukseskan program transmigrasi ini.

Diharapkan juga, tingkat kesejahteraan keluarga yang tinggal di tempat baru lebih baik daripada sebelumnya, katanya.(laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita