Minggu, 20 Mei 2012
Korban Banjir Pidie Kekurangan Air Bersih
Selasa, 15 Maret 2011 06:30
AddThis Social Bookmark Button

Jankarta, 15/3 (SIGAP) - Korban banjir bandang di Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, kini mengalami kekurangan air bersih karena material lumpur dan pasir telah membuat kondisi sungai dan sumur warga menjadi keruh sehingga tidak layak dikonsumsi.

Tokoh masyarakat Desa Layan, Kecamatan Tangse, T Hasan, Selasa (15/3) mengatakan, saat ini warga tergantung pada air mineral yang disumbangkan pemerintah kepada korban banjir.

"Tapi air ini kan hanya pas-pasan untuk minum saja, itu pun jumlahnya terbatas, karena tergantung berapa banyak sumbangan yang diberikan, tapi untuk memasak tidak bisa menggunakan air kemasan pastinya tidak cukup, sementara untuk mandi dan cuci, warga masih menggunakan air sungai walau keruh," katanya.

Kondisi yang sama terjadi di sebelas desa yang terkena dampak banjir bandang di Tangse. Warga berharap pemerintah daerah bisa menyalurkan mobil-mobil tangki air ke setiap desa, sehingga bisa memenuhi kebutuhan air bersih.

"Memang katanya ada tempat penampungan air bersih, tapi belum terlihat hingga hari ini, diantara sumbangan yang disalurkan kami menerima jerigen untuk menampung air, tapi belum ada sumber air bersihnya," ujar Hasan.

Kondisi yang sama juga terlihat di Desa Rantau Panyang, dengan kerusakan sumber air bersih yang sangat parah.

Sementara itu, Sekretaris Desa Rantau Panyang Hanafiah mengatakan, hampir tidak ada sumber air bersih di desa dengan jumlah penduduk 251 kepala keluarga ini.

"Untuk mandi dan mencuci, warga menggunakan air sungai saja, walaupun airnya sangat keruh, kalau untuk minum, warga mengkonsumsi air mineral yang disumbangkan oleh pemerintah dan dermawan, dan sekarang kami sangat membutuhkan air bersih, kalaupun harus memasak air sungai, tempat masak pun tidak ada," katanya.

Ketua Satkorlak Kabupaten Pidie Nazir Adam mengatakan, pemerintah daerah dan badan penanggulangan bencana kabupaten masih terus berupaya memenuhi kebutuhan masa panik korban banjir, termasuk air bersih.

"Semua akan coba kita penuhi dalam masa panik dan tanggap darurat ini, selain memenuhi kebutuhan dasar pangan, juga air bersih. Kita sedang mengusahakan mobil-mobil tangki air untuk membantu menyuplai air ke desa-desa yang terkena imbas banjir bandang, termasuk mobil tangki pemadam kebakaran," jelasnya.

Selain itu, tambah Nazir, petugas penanggulangan bencana bersama relawan serta anggota TNI-Polri juga masih terus melakukan pembukaan areal jalur jalan menuju ke beberapa daerah yang masih terisolasi, agar penyaluran bantuan bisa lebih mudah dilakukan.

Pemerintah menetapkan masa tanggap darurat selama 12 hari, terhitung dari hari pertama pascabencana.

Banjir bandang yang terjadi Kamis (10/3) malam itu membawa material berupa lumpur, kayu dan batu ini merusak sembilan desa di Kecamatan Tangse, yakni Desa Rantau Panyang, Blang Pandak, Blang Dalam, Layan, Peunalom-I, Peunalom II, Pulo Baro, Sarah Panyang, dan Desa Krueng Meuria.

Kerusakan infrastruktur dan fisik dilaporkan meliputi tujuh jembatan, enam sarana irigasi, 50 hektare sawah, enam kilometer jalan kabupaten rusak parah, dua sekolah rusak, dua meunasah rusak, dua pesantren rusak.

Korban jiwa meninggal dunia hingga saat ini sembilan orang, dan tiga warga masih dinyatakan hilang. Seribuan warga masih berada di lokasi pengungsian. (laporan panji al husen/ant)

 

Arsip Berita