Minggu, 20 Mei 2012
Disperindagkoptan: Yogyakarta Belum Perlu Vaksinasi Antraks
Jumat, 11 Maret 2011 02:29
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 11/3 (SIGAP) - Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pelayanan Kehewanan Disperindagkoptan Kota Yogyakarta Alladrya di Yogyakarta, Kamis (11/3) mengatakan, Kota Yogyakarta belum memerlukan vaksinasi antraks karena belum ditemukan daging dan ternak yang masuk atau berada di Kota Yogyakarta terkena bakteri penyakit tersebut.

Menurutnya, vaksinasi hanya dilakukan di daerah-daerah yang sudah terjangkit penyakit antraks dan karena hingga saat ini di Yogyakarta tidak ditemukan kasus antraks, maka vaksinasi tidak diperlukan.

Lebih lanjut Alladrya menjelaskan, meskipun tidak ditemukan kasus penyakit antraks di Yogyakarta, pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap daging sapi potong yang masuk ke Kota Yogyakarta, begitu pula dengan ternak hidup yang masuk ke wilayah tersebut mengingat sejumlah daerah yang menjadi pemasok daging atau ternak ke Kota Yogyakarta ada yang terjangkit penyakit antraks.

Seperti di Kabupaten Sleman DIY, lanjutnya, sudah melakukan vaksinasi antraks sejak 2003.

Selain melakukan pengawasan lalu lintas terhadap daging sapi potong dan ternak yang masuk ke Kota Yogyakarta, pihak UPT Pelayanan Kehewanan yang berada di bawah Bidang Pertanian Disperindagkoptan DIY juga rutin melakukan pemantauan penjualan daging di pasar-pasar tradisional.

Daging yang dicurigai terkena penyakit antraks akan berwarna lebih gelap dan mudah busuk.

Sedangkan ternak yang terinfeksi antraks biasanya memiliki suhu badan yang tinggi, keluar cairan dari hidung atau telinga.

Jumlah daging sapi yang masuk ke Kota Yogyakarta setiap hari mencapai 10 ton dan berasal dari sejumlah daerah seperti Klaten, Boyolali, Surakarta, Magelang dan Ambarawa, sedang di rumah pemotongan hewan Yogyakarta biasanya terdapat 15 hingga 20 ekor sapi yang dipotong per hari.

SIGAP mencatat, antraks atau anthrax merupakan penyakit menular akut dan sangat mematikan yang disebabkan bakteri Bacillus anthracis dalam bentuknya yang paling ganas. Antraks paling sering menyerang herbivora-herbivora liar dan yang telah dijinakkan. Penyakit ini bersifat zoonosis yang berarti dapat ditularkan dari hewan ke manusia, namun tidak dapat ditularkan antara sesama manusia. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita