Minggu, 20 Mei 2012
Dinkes: 113 Balita Di Kabupaten Karawang Masuk Kategori Gizi Buruk
Kamis, 10 Maret 2011 02:34
AddThis Social Bookmark Button

Karawang, 9/3 (ANTARA) - Kepala Dinas Kesehatan Karawang Asep Hidayat Lukman di Karawang, Rabu (9/3) mengatakan, sebanyak 113 bayi berusia lima tahun (Balita) di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, masuk kategori balita bergizi buruk, sesuai dengan data Dinas Kesehatan setempat selama 2010.

Asep menjelaskan, pada kasus gizi buruk terdapat dua penyebab, yakni penyebab langsung dan mendasar. Untuk penyebab langsung, pihaknya bisa memberikan penyuluhan gizi atau pemberian makanan tambahan.

Sementara penyebab mendasar ialah keterbatasan ekonomi. Karena itu, diperlukan kerja sama dengan sektor dan elemen masyarakat lainnya dalam mengatasi kasus gizi buruk.

Di antara upaya pencegahan dan penanggulangan kemungkinan bertambahnya kasus gizi buruk di Karawang, Dinas Kesehatan Karawang menggelar rapat koordinasi gizi buruk, dipimpin langsung Bupati Karawang, Ade Swara, di pemerintah daerah setempat, Rabu.

Menurut Ade Swara, penyelenggaraan rapat koordinasi tersebut merupakan bentuk komitmen dan rasa tanggung jawab Pemkab Karawang terhadap upaya percepatan penanggulangan gizi buruk.

Dalam menanggulangi kasus gizi buruk, kata Asep, Pemkab Karawang telah melakukan berbagai langkah, seperti pelacakan kasus gizi buruk, pemeriksaan kesehatan balita gizi buruk, penyuluhan dan konseling, pelatihan tata laksana gizi buruk bagi petugas, dan lain-lain.

SIGAP mencatat, gizi buruk adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan karena kekurangan asupan energi dan protein juga mikronutrien dalam jangka waktu lama. Anak disebut gizi buruk apabila berat badan dibanding umur tidak sesuai (selama 3 bulan berturut-turut tidak naik) dan tidak disertai tanda-tanda bahaya.

Sedangkan penyebab terjadinya gizi buruk secara langsung antara lain, penyapihan yang terlalu dini, kurangnya sumber energi dan protein dalam makanan TBC, anak yang asupan gizinya terganggu karena penyakit bawaan seperti jantung atau metabolisme lainnya.

Sementara penyebab tidak langsung, daya beli keluarga rendah/ ekonomi lemah, lingkungan rumah yang kurang baik, pengetahuan gizi kurang dan perilaku kesehatan dan gizi keluarga kurang.

Dampak gizi buruk pada anak terutama balita yakni, pertumbuhan badan dan perkembangan mental anak sampai dewasa terhambat; mudah terkena penyakit ispa, diare, dan yang lebih sering terjadi; bisa menyebabkan kematian bila tidak dirawat secara intensif.

Setidaknya ada 3 tipe gizi buruk, antara lain Marasmus: anak sangat kurus, wajah seperti orang tua, cengeng dan rewel, rambut tipis, jarang, kusam, berubah warna, kulit keriput karena lemak di bawah kulit berkurang, iga gambang, bokong baggy pant, perut cekung, wajah bulat sembab.

Kwarsiorkor: rewel, apatis, rambut tipis, warna jagung, mudah dicabut tanpa rasa sakit, kedua punggung kaki bengkak, bercak merah kehitaman, di tungkai atau bokong. Dan terakhir, gabungan dari marasmus dan kwarsiorkor. (laporan rusman/ant)


 

Arsip Berita