Minggu, 20 Mei 2012
PVMBG Terus Pantau Pergerakan Tanah Lereng Gunung Wilis
Rabu, 09 Maret 2011 02:22
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 9/3 (SIGAP) - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) akan terus memantau pergerakan tanah di lereng Gunung Wilis yang selama sebulan terakhir ini menimbulkan gempa ringan dan suara gemuruh.

Demikian disampaikan Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Bencana Geologi, Gede Suantika, di Madiun, Selasa (9/3).

"Sudah menjadi tugas kami untuk terus memantaunya. Dalam melakukan penelitian, kami juga akan menggandeng pihak-pihak terkait seperti Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jatim dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tretes," katanya

Dalam acara sosialisasi penanggulangan bencana geologi, tanah longsor, atau pergerakan tanah di Ponorogo, Tulungagung, dan Trenggalek, di ruang pertemuan Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Jatim di Madiun, Gede Suantika menerangkan, ada banyak hal yang dipantau.

Diantara objek pemantauan itu adalah suhu air panas dan pergerakan pada sesar-sesar kecil dari lempeng bumi yang ada di wilayah tersebut.

Meskipun demikian, katanya, berdasarkan pantauan selama sebulan ini, pergerakan tanah dan gempa yang terjadi masih tergolong stadium aman.

Berdasarkan hasil penelitiannya selama ini, diketahui jika suhu air panas di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Ngebel, Kabupaten Ponorogo, mencapai sekitar 90 derajat Celcius. Namun menurut Gede Suantika, suhu setinggi itu belum bisa dijadikan indikasi kuat adanya aktivitas vulkanik di Gunung Wilis yang saat ini sedang "tidur".

Dirinya memastikan gerakan tanah di lereng Gunung Wilis bukan karena aktivitas vulkanik, namun hanya pergeseran tanah akibat beban curah hujan yang tinggi selama 2010 sampai sekarang yang tergolong dalam waktu lama dan sering.

Pergeseran tanah itu, lanjut Gede, juga dipengaruhi patahan-patahan kecil yang ada di wilayah tersebut.

Oleh karena itu, pihaknya akan terus memantau gerakan tanah dan kemungkinan kenaikan suhu air panas tersebut. Dirinya juga sudah meneliti puncak Gunung Wilis. Dan hasilnya, di puncak tidak ada perubahan kawah. Selain itu, vegetasi di puncak juga lembab.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Kepala Bidang Geologi Dinas ESDM Jatim, Supardan. Dirinya menyatakan, berdasarkan penelitian PVMBG suhu air panas di wilayah setempat mencapai 90 derajat Celcius.

"Namun kami belum bisa menyimpulkan apakah ada kenaikan suhu atau tidak. Dalam waktu dekat, kami akan menerjunkan tim untuk memantau apakah ada kenaikan suhu air panas di wilayah setempat dan juga gejala alam lainnya," kata Supardan.

Akhir-akhir ini warga di sejumlah kabupaten di pesisir selatan diresahkan oleh suara gemuruh yang timbul dari dalam tanah. Di Kabupaten Madiun, suara tersebut didengar di sejumlah desa di Kecamatan Kare dan Kecamatan Dolopo.

Berdasarkan survei dan penelitian BKMG serta pihak terkait pada 3-21 Februari 2011 telah terjadi sedikitnya 103 getaran seismik disertai suara gemuruh yang ditengarai berasal dari dalam kerak bumi di wilayah pesisir selatan. Namun, gempa itu tergolong rendah dan tidak berbahaya, dengan kekuatan 2,6-3,1 skala Richter (SR). (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita