Minggu, 20 Mei 2012
Koordinator Kepala Suku: Masyarakat Enggano Minta Pemasangan Sirene Tsunami
Minggu, 06 Maret 2011 15:19
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 6/3 (SIGAP) - Koordinator Kepala Suku Enggano yang disebut Pa`abuki Iskandar Zulkarnain Kauno di Enggano, Minggu (6/3) mengatakan, masyarakat di Pulau Enggano Kecamatan Enggano Kabupaten Bengkulu Utara meminta pemerintah memasang sirene peringatan dini tsunami di pulau berpenduduk lebih 2.800 jiwa itu.

"Sampai saat ini belum ada alat sirene tsunami yang dipasang di Pulau Enggano padahal sama seperti Bengkulu, daerah ini juga sering dilanda gempa bumi," katanya menjelaskan.

Dirinya mengatakan, setiap gempa besar yang melanda Bengkulu, getarannya dirasakan kuat oleh masyarakat yang tinggal di pulau berjarak 106 mil dari Kota Bengkulu itu.

Untuk itu kata Iskandar, perlu dipasang sistem peringatan dini berupa sirene tsunami untuk mengurangi risiko bencana gempa dan tsunami yang berpotensi melanda pulau itu.

"Gempa besar tahun 2000 dan 2007 juga terasa sangat kuat di Enggano, bahkan masyarakat sudah banyak yang mengungsi, padahal di sini daerah yang tinggi sangat jauh dari pemukiman penduduk," jelasnya.

Dirinya berharap pemerintah memprioritaskan pemasangan sirene tsunami di pulau itu, selain masyarakat tetap siaga jika sewaktu-waktu gempa bumi terjadi.

Iskandar mengatakan saat ini sudah ada jalur evakuasi yang dibuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di pulau itu, bahkan masyarakat juga sudah mendapat sosialisasi dan simulasi bencana gempa bumi dan tsunami dari Palang Merah Indonesia (PMI) Bengkulu.

"Tapi alat itu tetap penting sebagai peringatan bagi masyarakat untuk melakukan penyelamatan diri sebelum bencana terjadi," katanya.

Sebelumnya Direktur Yayasan Layak Hema Malini juga mendesak pemerintah memasang sirene peringatan dini tsunami di pulau Enggano karena posisinya juga berada di pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia.

"Pulau Enggano dihuni lebih dari 2.700 jiwa dan daerah itu juga rawan bencana gempa bumi dan tsunami, karena itu pemasangan alat peringatan dini tsunami sangat mendesak," katanya.

Dirinya menilai pemerintah harus memprioritaskan program pengurangan risiko bencana di pulau terluar itu.

Pengalaman gempa dan tsunami di Pulau Mentawai, kata dia, sudah cukup dijadikan pelajaran untuk mengurangi risiko bencana bagi masyarakat disana.

"Letak Mentawai dan Pulau Enggano itu sama-sama di pantai barat Sumatra, dan potensi bencananya sama, karena berada di pertemuan lempeng Indoaustralia dan Eurasia," tambahnya.

Dua gempa besar yang melanda Bengkulu pada 2000 berkekuatan 7,3 skala Richter dan 2007 berkekuatan 7,9 skala Richter membuat panik warga di pulau itu. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita