Minggu, 20 Mei 2012
Dinkes Bogor Tangani 143 Kasus Gizi Buruk
Sabtu, 05 Maret 2011 06:00
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 5/3 (SIGAP) - Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Tri Wahyuharini, saat dihubungi, Sabtu (5/3) mengatakan, Dinkes Kabupaten Bogor mencatat sepanjang 2010 jumlah penderita gizi buruk yang ditangani sebanyak 143 kasus.

Tri menjelaskan, jumlah yang ada merupakan jumlah kasus dari tahun-tahun sebelumnya, gabungan dari kasus lama dan baru. "Ada yang sudah sembuh dan ada yang sedang dalam perawatan," katanya.

Tri menyebutkan, kasus gizi buruk memang masih menjadi momok bagi masyarakat sekitar. Ada dua faktor yang menyebabkan gizi buruk terjadi, yakni faktor hulu dan hilir.

"Faktor hulu adalah sumberdaya manusia yang masih rendah karena pendidikan minim, ekonomi lemah, sehingga berdampak pada perilaku hidup sehat yang kurang terjaga," kata Tri.

Sedangkan faktor hilirnya, ujar Tri adalah dampak dari faktor hulu, yakni ibu hamil yang kurang memperhatikan asupan gizi kandungannya, tidak memeriksakan kehamilan dan kurang memperhatikan kehamilannya.

Tri mengatakan gizi buruk dapat dicegah, jika faktor hilir dan hulunya diminimalisir dengan peningkatan kualitas SDM, melalui pendidikan, peningkatan ekonomi dan kesehatan.

Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, lanjut Tri telah melakukan sejumlah upaya-upaya untuk meminimalisir penyebaran gizi buruk di masyarakat luas.

Beberapa upaya yang dilakukan Dinas Kabupaten Bogor, lanjut Tri yakni menyisir kasus gizi buruk dengan melakukan bulan penimbangan balita.

"Kegiatan ini dilakukan setiap tahunnya, dalam satu tahun sebanyak dua kali yakni bulan Februari dan Agustus. Setiap Puskesmas dan Posyandu, kita laksanakan kegiatan Bulan penimbangan balita. Tujuannya untuk menyisir kasus gizi buruk melalui data berat balita," katanya.

Selanjutnya, kata Tri, dari hasil penyisiran tersebut, akan diketahui data balita gizi kurang, gizi buruk, setelah itu akan dilakukan pembinaan dengan pemberian suplai makanan bergizi, vitamin dan kesling.

"Ini akan dilakukan secara rutin oleh kader-kader posyandu, mereka yang akan membina para orang tua yang memiliki balita yang memiliki masalah dengan berat bayinya," kata Tri.

Selama pembinaan tersebut, lanjut Tri, pada kader dan bidan di setiap puskesmas akan memantau tumbuh kembang anak. Dan hasil pantauan tersebut juga akan di amati oleh Dinas Kesehatan Kabupaten dari masing-masing puskesmas.

Setiap minggu, tim akan turun ke lapangan memantau balita-balita tersebut, secara intensif hasil pantauan akan dilaporkan ke Dinas Kesehatan.

Selain itu, kata Tri, untuk menangani kasus gizi buruk Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor juga bekerjasama dengan Puslitbang gizi yang ada di Kota Bogor.

"Kerjasama ini dalam bidang melatih para kader puskesmas dalam menangani gizi buruk, selain itu, Puslitbang gizi juga mendirikan center klinik gizi di sejumlah wilayah di Kabupaten Bogor," kata Tri.

Ada 19 center klinik gizi milik Puslitbang Gizi yang di sebar di 19 desa dan kecamatan di Kabupaten Bogor seperti Cileungsi, Citeureup, Ciseeng, Parung, Cimandala, Cigombong, Cibungbulang, Ciomas, Rumpin, Cisarua, Dramaga, Sukaraja, Tanjung Sari, Sukamukti, dan lain sebagainya.

"Alhamdulillah, dari hasil pengamatan ini sudah ada beberapa bayi yang menunjukkan pertumbuhan lebih baik, sudah ada yang naik 80 persen berat badannya," kata Tri.

Tri menambahkan, bahwa pencegahan gizi buruk sebenarnya berawal dari kesadaran pribadi masyarakat untuk menjaga kesehatan diri dan lingkungan agar terhindar dari penyakit. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita