Minggu, 20 Mei 2012
Petani Garam Tak Nikmati Kenaikan Harga
Jumat, 04 Maret 2011 13:38
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 4/3 (SIGAP) - Kenaikan harga garam lokal di Pantai utara (Pantura) Jabar tidak dapat dinikmati oleh para petani garam di tambak-tambak yang tersebar di kawasan itu.

"Harga garam saat ini naik dari Rp1.000 menjadi Rp1.300 per kilogram, namun tak dinikmati petani tambak karena mereka tidak bisa membuat garam sejak lama," kata Ketua Asosiasi Pengusaha Garam Indonesia (APGI) Jabar, Cucu Sutara di Bandung, Jumat (4/3).

Menurut Cucu, kenaikan harga garam tersebut akibat kelangkaan stok garam lokal di Jawa Barat. Padahal sebelumnya harga garam lokal berkisar antara Rp800 hingga Rp1.000 per kilogram.

Dirinya menyebutkan, garam-garam itu hanya ada di tingkat pengepul yang berduit. Namun demikian stok yang sedikit itupun tidak laku karena lebih murah garam pasokan dari Jatim dan juga impor.

"Petani garam jelas rugi, gigit jari saat harga tinggi karena tak bisa jual garam. Kebanyakan mereka beralih jadi pekerja di tambak udang," kata Cucu Sutara.

Kondisi itu dibenarkan oleh petani garam Oman Abdurahman yang menyebutkan para petani garam saat ini sedang menganggur.

Bila biasanya mereka memiliki tambak garam, kini mereka terpaksa bekerja sebagai buruh di tambak udang milik orang lain hanya untuk menyambung hidup.

"Terpaksa bekerja di tambak udang untuk mendapatkan penghasilan. Perkiraan masih lama bisa kembali bikin garam," kata Oman.

Musim hujan yang berkepanjangan pada 2010 mengakibatkan para petani garam tidak bisa beroperasi.

Sementara itu Kepala Dinas Industri dan Perdagangan Jawa Barat, Ferry Sofyan Arief mengakui kosongnya stok garam lokal di Pantura Jabar. Saat ini pasokan garam mengandalkan dari Jatim dan Jateng.

Sementara itu APGI Jabar telah melayangkan surat pengajuan untuk melakukan impor garam untuk memenuhi kebutuhan garam di Jawa Barat. Rencananya impor garam dari Australia dan India dengan jumlah tahap awal 20.000 ton.

"Kebutuhan garam di Jabar hingga Juli 2011 sekitar 70.000 ton, Kondisi saat ini jelas harus impor," kata Ferry Sofyan Arief.

Dirinya menyebutkan, pembuatan garam di Pantura selama ini dilakukan secara tradisional yakni di dalam tambak terbuka yang mengandalkan sinar matahari. Sehingga bila hujan turun, maka para petani gagal membuat garam.

Tambak garam di Jawa Barat saat ini sekitar 3.500 hektar dengan areal terluas di Cirebon dan Indramayu. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita