Minggu, 20 Mei 2012
Dinkes: Angka Kematian Bayi Di Sulsel Masih Tinggi
Selasa, 01 Maret 2011 02:28
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 1/3 (SIGAP) - Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), Andi Mappa Toba, di Makassar, Senin (28/2) mengatakan, Angka kematian bayi di Provinsi Sulawesi Selatan masih tergolong cukup tinggi dan belum memenuhi target Meillenium Development Goals.

Menurutnya, saat ini angka kematian bayi mencapai 41 per 1.000 kelahiran hidup. Dalam MDGs, target angka kematian bayi adalah sebanyak 34 per 1.000 kelahiran hidup.

"Jumlah kasus kematian bayi inipun masih jauh dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) hingga tahun 2014, yakni sebanyak 24 per 1.000 kelahiran hidup," imbuhnya.

Dirinya menambahkan, jika dilihat dari sejumlah kasus kematian bayi, pada dasarnya tidak banyak disebabkan oleh gizi buruk, meskipun gizi buruk memang memiliki andil besar dalam kematian bayi.

Gizi buruk yang menyerang bayi, jelasnya, dapat mengakibatkan bayi tersebut mudah terserang infeksi atau disebut penyakit penyerta yang bisa menimbulkan kematian.
Menurut Andi Mappa Toba, terdapat banyak faktor yang bisa mengakibatkan tingginya angka kematian bayi di Sulsel. "Faktor-faktor tersebut, diantaranya adalah sarana dan prasarana kesehatan yang belum memadai, khususnya di daerah terpencil dan pegunungan," terangnya.

Selain itu, ada pula faktor keterampilan dari petugas kesehatan yang belum cukup mumpuni yang mengakibatkan tingginya angka kematian bayi. Meskipun masih cukup tinggi, Pemerintah Provinsi Sulsel terus mencanangkan berbagai program untuk dapat menekan angka kematian bayi, sehingga target dalam RPJMN dan MDGs bisa tercapai.

"Untuk itu, kami juga mengimbau pemerintah Kabupaten dan Kota, khususnya di daerah terpencil untuk menciptakan program yang dapat mendukung pencapaian target ini," katanya.

SIGAP mencatat, sasaran MDGs adalah delapan tujuan yang diupayakan untuk dicapai pada tahun 2015 merupakan tantangan tantangan utama dalam pembangunan diseluruh dunia.
Tantangan-tantangan ini sendiri diambil dari seluruh tindakan dan target yang dijabarkan dalam Deklarasi Milenium yang diadopsi oleh 189 negara dan ditandatangani oleh 147 kepala pemerintahan dan kepala negara pada saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium di New York pada bulan September 2000.

Penandatanganan deklarasi ini merupakan komitmen dari pemimpin-pemimpin dunia, termasuk Indonesia untuk mengurangi lebih dari separuh orang-orang yang menderita akibat kelaparan, menjamin semua anak untuk menyelesaikan pendidikan dasarnya, mengentaskan kesenjangan jender pada semua tingkat pendidikan, mengurangi kematian anak balita hingga 2/3 , dan mengurangi hingga separuh jumlah orang yang tidak memiliki akses air bersih pada tahun 2015. (laporan rusman/ant)

 

Arsip Berita