Minggu, 20 Mei 2012
Arsitektur Gunung Padang dalam Naskah Lontar Sunda Kuno
Sabtu, 19 Mei 2012 16:40
AddThis Social Bookmark Button

 

Situs Gunung Padang Cianjur merupakan prototipe bangunan candi gunung di dalam kebudayaan Megalitik. Polanya berdenah segi empat yang terbuka ke arah timur. Untuk menciptakan kesan simetris, pada ketiga sisi yang lain dibuat pintu-pintu semu. Gaya arsiteknya adalah bentuk bertingkat-tingkat yang makin ke puncak makin mengecil menampilkan badan utama ‘model piramida bertingkat tujuh’ dengan puncak yang terdiri atas lima menara yang ditata dalam bentuk ‘pasangan lima’ (empat menara mengelilingi satu yang di tengah).
Deskripsi mengenai hal ini, antara lain, terdapat dalam bagian teks Séwaka Darma, naskah lontar Sunda Kuno (1483 Masehi), ketika melukiskan tentang tujuh tingkatan Alam Kahyangan di aras langitan (baca Darsa, 2012). Bagian teks yang dimaksud tampak pada larik-larik berikut.
Éta nu dipajar doraulah ma dipihidepeunpageuhan rasa sakedapNu dipajar pasampanganna jalan tujuh patangtungsampangna maregat limajalan sarua ageungnaNya di nu iyatna-yatnamulah dék ngénca ngatuhumulah heubeul samoréang! ‘Adapun yang disebut gerbang, janganlah dijadikan pikiran, teguhkan rasa sejenak. Yang disebut persimpangan, adalah jalan tujuh mendaki, simpangannya bercabang lima, jalan yang sama lebarnya. Bagi mereka yang waspada, jangan ke kiri atau ke kanan, jangan terlalu lama membayangkan!’
Gaya arsitektur situs Gunung Padang ini sama sekali belum menampilkan gaya lengkung yang berasal dari pengaruh India. Bukit tempat menara itulah yang secara konkret melambangkan “Gunung Kahyangan” dalam tradisi keagamaan Sunda masa lalu. Bangunan semacam ini dinamakan sebuah Batur.
Adapun Batur yang dikenal dalam kehidupan keagamaan masyarakat Sunda masa lalu, menurut naskah tradisi Sunda Kuno dibedakan ke dalam dua macam, yakni Lemah Parahiyangan dan Lemah DéwasasanaLemah Parahiyangan yaitu situs keagamaan Sunda asli yang tidak memerlukan simbol-simbol pemujaan berupa patung (sekarang masih dijalani masyarakat Baduy di Desa Kanékés); sedangkan yang dinamakan Lemah Déwasasana, yaitu situs keagamaan yang berkembang setelah terjadinya koalisi dengan tradisi Hindu-Budha yang menyertakan simbolisasi pemujaan beragam patung mahluk hidup.
Penulis: Prof. Undang A. Darsa. (Budayawan, Filolog & Dosen Sastra Sunda UNPAD)

 

 


Halaman 1 dari 7323